Fokus
Teknologi

Peningkatan Persaingan Teknologi AS-Cina

Share

Berbagai berita dari Texas, Kanada, dan Cina menyoroti persaingan teknologi global yang semakin tajam, termasuk gugatan hukum, perang chip, dan upaya mengungguli pasar melalui inovasi di bidang AR dan pemasaran teknologi.

19 Feb 2026, 21.05 WIB

Baterai Drone Kanada dengan Anoda Silikon Gandakan Waktu Terbang, Tantang Dominasi Cina

Baterai Drone Kanada dengan Anoda Silikon Gandakan Waktu Terbang, Tantang Dominasi Cina
Perusahaan asal Kanada, NEO Battery Materials, baru saja memperkenalkan baterai drone terbaru yang mampu hampir menggandakan waktu penerbangan dalam pengujian nyata. Baterai ini menggunakan teknologi anoda silikon yang meningkatkan kapasitas energi dan kepadatan baterai secara signifikan. Dalam uji coba, sebuah drone pengawas komersial yang berasal dari Korea berhasil terbang selama 59,2 menit, naik drastis dari 29,9 menit dengan baterai standar yang biasa dipakai. Pengujian dilakukan pada suhu dingin sekitar 23 sampai 26 derajat Fahrenheit dan ketinggian 70 kaki, yang merefleksikan kondisi operasional nyata. Baterai ini tidak hanya meningkatkan durasi penerbangan tetapi juga menjaga kestabilan voltase, sehingga mengurangi risiko kehilangan daya secara tiba-tiba yang bisa menyebabkan kecelakaan. Drone tersebut tidak memerlukan modifikasi pada sistem penggerak maupun pengendali yang sudah ada. Keunggulan lain dari baterai ini adalah kemampuannya pengisian yang lebih cepat. Dibandingkan baterai standar, baterai NEO ini mampu mengisi daya 50 persen lebih cepat bahkan bisa mencapai 150 persen lebih cepat pada mode pengisian ultra-cepat. Hal ini memungkinkan drone bisa kembali terbang dengan waktu pengisian yang jauh lebih singkat, sangat penting untuk operasi yang membutuhkan kelincahan dan respon cepat. Selain durasi terbang yang lebih lama, NEO juga melaporkan bahwa efisiensi penggunaan energi pada level sistem mengalami peningkatan, terlihat dari peningkatan waktu terbang per kapasitas dan per berat baterai. Setelah pengujian lapangan yang berhasil, perusahaan ini kini fokus pada penyempurnaan perangkat lunak pengelolaan baterai dan optimalisasi bahan untuk meningkatkan temperatur dan efisiensi keseluruhan. NEO berharap baterai ini dapat menjadi alternatif yang kuat menggantikan baterai yang didominasi oleh produksi dari Cina. Dengan target pasar termasuk Amerika Serikat dan negara-negara NATO, teknologi ini berpotensi melayani sektor industri, pertahanan, dan respons darurat yang membutuhkan drone dengan durasi terbang panjang dan waktu pengisian cepat.
19 Feb 2026, 20.00 WIB

ByteDance dan Raksasa Teknologi Cina Ramaikan Gala Festival Musim Semi dengan AI Canggih

ByteDance dan Raksasa Teknologi Cina Ramaikan Gala Festival Musim Semi dengan AI Canggih
Persaingan antar perusahaan teknologi besar Cina seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent semakin sengit, terutama dalam bidang kecerdasan buatan (AI) pada perayaan Gala Festival Musim Semi. Tahun ini, kompetisi tidak hanya soal hadiah dan iklan besar, tetapi lebih fokus pada produk AI terbaru yang digunakan secara luas. ByteDance, pemilik TikTok, menjadi sorotan setelah layanan AI mereka seperti cloud computing Volcano Engine dan aplikasi Doubao digunakan secara intensif dalam acara Gala yang disiarkan oleh China Central Television. ByteDance melaporkan jumlah interaksi yang sangat besar, mencapai 1,9 miliar selama acara berlangsung. Selain itu, model video viral Seedance 2.0 dari ByteDance juga digunakan untuk menghasilkan beberapa segmen yang sudah direkam sebelumnya dalam acara Gala tersebut. Hal ini menunjukkan bagaimana AI kini tidak hanya di bidang pemasaran atau teknologi, tetapi juga dalam produksi konten hiburan. Penggunaan token sebagai unit data fundamental dalam AI juga mendapat perhatian khusus, dengan Doubao memproses hingga 63,3 miliar token per menit pada puncaknya. Angka ini jauh melampaui capaian yang dipublikasikan oleh OpenAI sebelumnya, yang memproses 6 miliar token per menit melalui API mereka. Namun, persaingan yang sangat ketat ini membuat regulator pasar Cina turun tangan untuk memberikan peringatan terkait praktik persaingan yang dianggap berlebihan, atau neijuan. Hal ini penting agar persaingan tetap sehat dan inovasi teknologi dapat berlanjut tanpa mengorbankan etika bisnis.
19 Feb 2026, 02.26 WIB

Inovasi LCoS dan AI Membuka Era Baru Kacamata AR Praktis dan Terjangkau

Inovasi LCoS dan AI Membuka Era Baru Kacamata AR Praktis dan Terjangkau
Kacamata augmented reality (AR) selama ini memiliki kendala besar seperti ukuran yang besar, konsumsi daya tinggi, dan kualitas visual yang kurang baik. Artikel ini menjelaskan bagaimana teknologi baru berbasis LCoS dari perusahaan Tiongkok Appotronics mencoba mengatasi masalah tersebut dengan miniaturisasi dan efisiensi yang lebih tinggi. Berbeda dengan teknologi MicroLED yang memancarkan cahaya ke banyak arah dan menghabiskan lebih banyak energi, LCoS bekerja dengan memantulkan cahaya melalui kristal cair pada silikon sehingga konsumsi daya lebih stabil dan cahaya bisa diarahkan dengan presisi lebih tinggi ke lensa gelombang (waveguide). Appotronics berhasil mengurangi ukuran mesin cahaya dari beberapa cm3 menjadi sekecil 0,2 cm3, memungkinkan integrasi langsung ke bingkai kacamata. Desain ini menggunakan satu mesin cahaya untuk kedua mata yang terpusat dan self-aligned, mengurangi kompleksitas dan menjadikan bingkai lebih ringan serta lebih nyaman dipakai. Selain itu, mereka juga berhasil memangkas biaya dengan membuat exit pupil yang sangat kecil sehingga dapat menekan ketebalan dan harga lensa gelombang yang biasanya mahal. Dengan efisiensi yang lebih baik, daya baterai lebih hemat dan panas yang timbul bisa diminimalisasi. Integrasi kecerdasan buatan (AI) merupakan fitur kunci untuk menjadikan AR glasses tidak sekadar perangkat visual, melainkan asisten pintar yang dapat membantu pengguna dalam berbagai aktivitas sehari-hari secara kontekstual. Teknologi ini diprediksi akan membuat AR menjadi gadget AI yang sangat berguna di masa depan.
18 Feb 2026, 19.40 WIB

Adani Siapkan Rp 1.67 quadriliun (US$100 Miliar) Bangun Infrastruktur AI dan Energi Terbarukan

Adani Siapkan Rp 1.67 quadriliun (US$100 Miliar)  Bangun Infrastruktur AI dan Energi Terbarukan
Adani Enterprises, konglomerat besar asal India, berencana menginvestasikan Rp 1.67 quadriliun (US$100 miliar) untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dengan energi terbarukan yang ditargetkan rampung pada tahun 2035. Investasi ini adalah bagian dari ambisi India untuk menjadi pemain utama di sektor teknologi AI di dunia. Investasi tersebut akan digunakan untuk pembangunan data center AI dengan kapasitas awal 2 gigawatt yang akan ditingkatkan hingga 5 gigawatt. Data center ini akan menggunakan tenaga energi terbarukan demi mendukung ketahanan jaringan listrik dan sistem komputasi AI yang handal. Selain infrastruktur AI, Adani juga berencana menanamkan modal sebesar Rp 918.50 triliun (US$55 miliar) di sektor energi terbarukan, termasuk proyek penyimpanan energi baterai terbesar di dunia, yang bertujuan memperkuat portofolio energi bersih mereka. Untuk mendukung proyek ini, Adani telah menjalin kerja sama dengan Google yang akan menginvestasikan Rp 250.50 triliun (US$15 miliar) selama lima tahun untuk membangun pusat data AI terbesar di India. Investasi ini diharapkan dapat memicu tambahan investasi sebesar Rp 2.50 quadriliun (US$150 miliar) di berbagai sektor industri. Langkah besar yang diambil Adani ini menunjukkan semakin sengitnya persaingan global dalam bidang AI, terutama antara negara besar seperti China, Amerika Serikat, dan kini India yang berusaha memperkuat teknologi dalam negerinya agar memiliki pengaruh besar di masa depan.