Fokus
Sains

Perbatasan dan Inovasi Biomedis

Share

Kumpulan riset biomedis terbaru mencakup inovasi seperti mesh bioelektronik untuk aktivitas otak mini, temuan tentang virus raksasa, pendekatan revolusioner dalam pengobatan kanker, serta penemuan tentang bioelektrisitas sel dan terobosan dalam reproduksi manusia yang mengedepankan kolaborasi internasional.

19 Feb 2026, 06.51 WIB

Perangkat Elektronik Lembut 3D untuk Merekam Aktivitas Otak Mini Manusia

Perangkat Elektronik Lembut 3D untuk Merekam Aktivitas Otak Mini Manusia
Para ilmuwan telah mengembangkan sebuah perangkat elektronik lentur yang bisa membungkus organoid otak manusia buatan di laboratorium untuk merekam aktivitas listrik hampir di seluruh permukaannya. Ini adalah solusi untuk keterbatasan alat perekam yang sebelumnya hanya bisa mendeteksi sinyal dari beberapa lokasi saja. Alat ini menggunakan jaringan elektroda mikro berbentuk mesh dengan 240 elektroda kecil, yang ukurannya sekitar satu sel. Desainnya yang berpori memastikan aliran oksigen dan nutrisi tetap terjaga agar organoid bisa tetap hidup dan berfungsi dengan baik. Perangkat ini dibuat berbentuk datar lalu berubah menjadi struktur tiga dimensi yang menyesuaikan dengan bentuk bulat organoid, menggunakan prinsip mekanis seperti buku pop-up. Transformasi ini tidak merusak organoid dan memungkinkan kontak listrik yang stabil di seluruh permukaan. Selain merekam, alat ini juga dapat memberikan stimulasi listrik untuk melihat bagaimana organoid merespon obat. Contohnya, obat 4-aminopyridine meningkatkan sinyal saraf sedangkan botulinum toxin mengganggu koordinasi aktivitasnya, menandakan alat ini bisa mendeteksi perubahan fungsi dengan tepat. Teknologi ini jadi sangat penting untuk penelitian otak dan pengembangan obat di masa depan karena memungkinkan pemantauan jaringan saraf secara menyeluruh sekaligus stimulasi yang presisi, sehingga membantu ilmuwan memahami dan memperbaiki fungsi otak secara keseluruhan.
18 Feb 2026, 07.00 WIB

Virus Raksasa Acanthamoeba Mimivirus Mengambil Alih Mesin Protein Sel Inang

Virus Raksasa Acanthamoeba Mimivirus Mengambil Alih Mesin Protein Sel Inang
Para ilmuwan telah menemukan bahwa virus raksasa bernama Acanthamoeba polyphaga mimivirus memiliki kemampuan luar biasa untuk mengambil alih mesin pembuat protein milik sel yang diinfeksinya. Ini merupakan bukti eksperimental yang sebelumnya sulit diperoleh yang menunjukkan bahwa virus bisa menggunakan sistem kompleks yang biasanya hanya dimiliki oleh makhluk hidup seluler. Virus ini menggunakan tiga protein khusus yang membentuk kompleks yang mampu mengendalikan ribosom—struktur sel yang menerjemahkan RNA menjadi protein. Dengan cara ini, ribosom yang biasanya memproduksi protein sel inang dialihkan untuk membuat protein virus, mempercepat proses perbanyakan virus tersebut. Jika virus ini kehilangan salah satu dari protein penting tersebut, pertumbuhannya akan melambat drastis hingga 100.000 kali lebih lambat dibandingkan virus yang memiliki ketiga protein tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya protein-protein ini bagi efisiensi replikasi virus raksasa. Acanthamoeba polyphaga mimivirus juga dikenal karena ukuran fisiknya yang besar sehingga bisa dilihat dengan mikroskop cahaya dan memiliki genom yang lima kali lebih besar daripada virus poxvirus yang biasanya menginfeksi manusia. Virus ini biasanya menginfeksi organisme protista seperti amoeba yang tersebar luas di berbagai lingkungan. Penemuan ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang cara virus beroperasi, tetapi juga dapat membantu para ilmuwan memahami asal-usul kehidupan kompleks serta mengembangkan terapi baru yang menargetkan mekanisme pengambilalihan produksi protein oleh virus.
12 Jan 2026, 07.00 WIB

Bagaimana Bioelektrisitas Memilih Sel yang Harus Dieliminasi di Tubuh Kita

Bagaimana Bioelektrisitas Memilih Sel yang Harus Dieliminasi di Tubuh Kita
Tubuh kita tidak hanya bergantung pada listrik di otak dan sistem saraf, tetapi jaringan lain seperti kulit dan lapisan pelindung organ juga menggunakan sinyal bioelektrik untuk berkomunikasi dan menjaga kesehatan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sel-sel dalam jaringan epitel menggunakan bioelektrisitas sebagai alat untuk mendeteksi dan mengeluarkan sel yang lemah melalui proses yang disebut ekstrusi. Ketika jaringan menjadi padat, tekanan pada sel meningkat dan memicu pembukaan kanal ion yang peka terhadap tekanan. Sel yang sehat dapat mempertahankan potensial membran dengan memompa ion untuk mengembalikan keseimbangan listrik, tetapi sel yang tua atau lemah gagal mempertahankan ini, sehingga menyebabkan hilangnya air dan volume sel yang memicu proses ekstrusi. Proses ekstrusi ini penting karena membantu menjaga jumlah dan kualitas sel yang tepat dalam jaringan, mencegah pertumbuhan sel yang tidak terkontrol yang dapat berujung pada tumor atau degradasi jaringan yang berlebihan. Bioelektrisitas menjadi sinyal awal yang memulai tindakan pengeluaran sel yang bermasalah, sehingga menjaga keseimbangan dan kesehatan jaringan. Para peneliti juga mengaitkan fenomena ini dengan sejarah penemuan bioelektrisitas yang awalnya dikaitkan dengan saraf dan otot, namun kini ditemukan berfungsi di banyak jaringan lain serta dalam organisme sederhana seperti bakteri. Ini membuka pandangan baru bahwa listrik merupakan bahasa komunikasi universal di antara sel hidup. Penelitian ini memberikan harapan dan peluang baru untuk mempelajari penyakit seperti kanker dan asma yang mungkin timbul dari gangguan bioelektrisitas. Dengan mempelajari dan mengendalikan sinyal listrik ini, kita mungkin dapat menemukan metode pengobatan baru yang efektif yang memanfaatkan regulasi bioelektrik dalam tubuh.
11 Jan 2026, 20.45 WIB

Friedrich August Carl: Pelopor Pengobatan Herbal Modern di Hindia Belanda

Friedrich August Carl: Pelopor Pengobatan Herbal Modern di Hindia Belanda
Pada zaman dahulu di Hindia Belanda, masyarakat lebih memilih berobat ke dukun karena ilmu kedokteran modern belum berkembang dan dokter lebih banyak berada di kota. Dukun menggunakan mantra dan obat herbal untuk menyembuhkan berbagai penyakit, yang ternyata cukup efektif dan menarik perhatian dokter Eropa. Friedrich August Carl, seorang dokter asal Jerman, ditugaskan di Semarang pada 1823 dan terkejut melihat kepercayaan masyarakat terhadap dukun yang lebih besar daripada dokter. Carl kemudian penasaran mengapa pengobatan dengan obat herbal yang dianggap tidak ilmiah ini bisa berhasil. Dia mengamati secara mendalam praktik dukun, menyelidiki obat herbal yang digunakan, dan mencoba membuktikan efektivitasnya dengan riset ilmiah, termasuk eksperimen menggunakan dirinya sendiri dan pasien. Hasil penelitian ini kemudian ia tulis dalam sebuah karya berjudul Pratische Waarnemingen Over Eenige Javaansche Geneesmiddelen. Dalam karya tersebut, Carl mendokumentasikan berbagai obat herbal dan membandingkannya dengan obat-obatan modern, serta mengkategorikannya berdasarkan penyakit dari sudut pandang ilmu medis kontemporer. Penelitian ini membuka jalan bagi dokter lain untuk memanfaatkan obat herbal sebagai solusi pengobatan di Hindia Belanda. Keberhasilan Carl menjadikan obat herbal bagian dari praktik medis modern di Hindia Belanda dan mengangkat namanya sebagai pelopor pengobatan herbal di Indonesia pada akhir abad ke-19. Integrasi ini menunjukkan pentingnya penggabungan budaya lokal dengan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan.
10 Jan 2026, 11.00 WIB

Peneliti China Ciptakan Mini-Rahim 3D di Chip untuk Atasi Infertilitas

Para ilmuwan dari Akademi Ilmu Pengetahuan China telah berhasil menciptakan sebuah model mini-rahim dalam bentuk chip mikrofluidik 3D yang bisa meniru cara embrio manusia menempel di rahim selama kehamilan awal. Ini adalah terobosan penting karena sebelumnya riset ini sulit dilakukan akibat keterbatasan etis dan sulitnya mendapatkan embrio manusia asli untuk dipelajari. Model yang mereka kembangkan menggunakan blastokis manusia yang berumur sekitar lima hingga enam hari dan mengandung 100 hingga 200 sel. Blastokis ini kemudian dikultur bersama jaringan endometrium manusia yang sudah direkayasa secara biologis dalam chip tersebut, sehingga bisa mereplikasi dengan sangat baik proses implantasi dan perkembangan pasca-implantasi awal. Dengan alat ini, para peneliti dapat mempelajari secara lebih mendalam tahapan-tahapan penting di awal kehamilan yang sebelumnya sulit dipahami. Hal ini juga memungkinkan mereka merancang pengobatan personal bagi wanita yang mengalami kesulitan hamil akibat masalah implantasi embrio. Penelitian ini dikerjakan oleh tim dari berbagai universitas dan pusat medis di China dan Amerika Serikat, dan hasilnya telah dipublikasikan di jurnal ilmiah Cell pada 23 Desember. Mereka berharap teknologi ini dapat membantu mengatasi masalah infertilitas yang dialami banyak wanita di seluruh dunia. Ke depan, mini-rahim berbasis chip ini berpotensi menjadi alat standar untuk riset reproduksi dan pengembangan terapi baru. Dengan memahami proses implantasi dengan lebih baik, terapi yang lebih efektif dan aman bisa dikembangkan, mengubah masa depan pengobatan infertilitas secara signifikan.