Fokus
Finansial

Disrupsi Digital dan Transformasi Tenaga Kerja di Perbankan

Share

Cerita ini membahas dampak transformasi digital dan adopsi teknologi seperti AI yang mendorong pengurangan jumlah pegawai serta kebutuhan reskilling di sektor perbankan. Langkah inovatif dalam manajemen SDM dan penyesuaian kurikulum pelatihan menjadi kunci untuk mengatasi pergeseran lanskap pekerjaan.

04 Jan 2026, 11.15 WIB

Terungkap! Karyawan Bank Wells Fargo Pakai Mouse Palsu untuk Pura-Pura Kerja

Terungkap! Karyawan Bank Wells Fargo Pakai Mouse Palsu untuk Pura-Pura Kerja
Selama masa pandemi Covid-19, banyak pekerja yang melakukan kerja jarak jauh atau work from home (WFH). Dalam kondisi ini, pengawasan langsung dari atasan menjadi terbatas, sehingga beberapa karyawan memanfaatkan teknologi untuk berpura-pura bekerja. Di Bank Wells Fargo, sebuah bank besar di San Francisco, sejumlah karyawan menggunakan alat bernama mouse jiggler yang membuat komputer terus aktif meski tidak benar-benar digunakan. Mouse jiggler ini sebenarnya perangkat kecil yang membuat pointer mouse bergerak secara otomatis. Dengan begitu, sistem komputer menganggap sedang dipakai dan tidak masuk ke mode tidur. Alat ini populer di kalangan pekerja selama WFH karena bisa memberikan kesan bahwa karyawan terus aktif bekerja, meskipun sebenarnya mereka tidak melakukan aktivitas kerja seharusnya. Manajemen Wells Fargo mengambil tindakan tegas setelah mengetahui praktik ini. Para karyawan yang ketahuan memakai mouse jiggler langsung dipecat karena dianggap melakukan perilaku tidak etis yang melanggar standar perusahaan. Bank ini menegaskan bahwa mereka tidak menoleransi tindakan seperti ini demi menjaga integritas dan profesionalisme kerja. Fenomena ini juga menunjukkan tantangan besar dalam sistem kerja jarak jauh. Laporan dari Gallup menyebutkan bahwa sekitar 62% pekerja di dunia merasa tidak terlibat secara penuh dalam pekerjaan mereka, dan 15% bahkan tidak aktif sama sekali. Hal ini membuat perusahaan perlu memastikan keterlibatan dan produktivitas karyawan meskipun bekerja secara remote. Kejadian ini memberikan pelajaran penting bagi industri dan pekerja bahwa kejujuran dan etika dalam bekerja tetap harus dijunjung tinggi, terutama dengan perkembangan teknologi yang bisa disalahgunakan. Di masa depan, perusahaan mungkin akan mengembangkan metode pemantauan dan evaluasi kinerja baru agar kualitas kerja tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kepercayaan antara karyawan dan manajemen.
02 Jan 2026, 16.40 WIB

Bank di Eropa Diprediksi PHK Massal Karena Adopsi AI dan Digitalisasi

Bank di Eropa Diprediksi PHK Massal Karena Adopsi AI dan Digitalisasi
Morgan Stanley memperkirakan bahwa sekitar 200.000 pekerjaan di sektor perbankan besar di Eropa berisiko hilang dalam empat tahun ke depan akibat adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin agresif. Bank-bank besar berencana menutup banyak kantor cabang dan menggantikan pekerjaan rutin dengan teknologi AI yang lebih efisien dan cepat dalam memproses data. Pekerjaan yang paling terdampak adalah divisi back-office, manajemen risiko, dan compliance. Divisi ini dapat digantikan oleh AI karena kemampuannya dalam memeriksa dan menganalisis data dengan lebih efektif dibanding manusia. Penggantian ini juga diperkirakan bernilai ekonomis tinggi, dengan potensi penghematan biaya mencapai 30 persen dari pengeluaran sumber daya manusia. Goldman Sachs juga mengonfirmasi tren ini dengan pengumuman bahwa mereka akan mengurangi jumlah karyawan dan menghentikan perekrutan hingga akhir tahun 2025 berbarengan dengan peluncuran program AI bernama OneGS 3.0. Tren serupa ini diprediksi tidak hanya terjadi di Eropa, tapi juga di berbagai negara lainnya yang mulai mengadopsi teknologi AI dalam industri perbankan. Forum Ekonomi Dunia (WEF) dalam Laporan Survei Pekerjaan di Masa Depan 2025 menyatakan bahwa digitalisasi dan pemanfaatan AI serta teknologi lain seperti robotika akan sangat mengubah lanskap pekerjaan global. Lebih dari 60 persen penyedia lapangan kerja memperkirakan digitalisasi akan mengubah bisnis mereka pada 2030, dan ini akan mendorong pertumbuhan berbagai sektor sekaligus menurunkan kebutuhan untuk pekerjaan tertentu. Perubahan ini menandai era baru di dunia kerja dimana tenaga manusia harus beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang. Meski ada risiko pengurangan pekerjaan, ada peluang baru yang muncul terkait keterampilan baru yang dibutuhkan di dunia digital. Oleh karena itu, penting bagi pekerja dan perusahaan untuk mempersiapkan diri menghadapi transformasi ini.
02 Jan 2026, 03.28 WIB

AI Membawa Gelombang PHK Besar di Bank-Bank Eropa Hingga 2030

AI Membawa Gelombang PHK Besar di Bank-Bank Eropa Hingga 2030
Sektor perbankan di Eropa sedang bersiap menghadapi perubahan besar yang akan mengurangi jumlah pekerjaan secara signifikan. Morgan Stanley melaporkan bahwa lebih dari 200.000 pekerjaan diperkirakan hilang hingga tahun 2030 di 35 bank besar. Ini setara dengan sekitar 10% dari seluruh tenaga kerja yang ada di bank-bank tersebut. Perubahan ini terutama didorong oleh penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi dan menutup banyak cabang fisik bank. Pemotongan karyawan akan paling terasa pada bagian belakang kantor, seperti dalam operasi back-office, serta manajemen risiko dan kepatuhan yang selama ini dikerjakan secara manual. Algoritma AI dinilai mampu mengerjakan tugas-tugas ini lebih cepat dan akurat daripada manusia. Bank-bank berharap bisa meningkatkan efisiensi hingga 30% melalui adopsi teknologi ini, menurut laporan Morgan Stanley. Tidak hanya di Eropa, tren pengurangan tenaga kerja juga terjadi di Amerika Serikat. Goldman Sachs mengumumkan akan melakukan pemotongan karyawan dan membekukan perekrutan sampai akhir tahun 2025 sebagai bagian dari strategi AI baru mereka yang bernama OneGS 3.0. Strategi ini mencakup berbagai aspek dari proses onboarding klien hingga pembuatan laporan regulasi. Beberapa bank sudah mulai melakukan pengurangan tenaga kerja. Contohnya, ABN Amro di Belanda merencanakan untuk memangkas sekitar 20% karyawannya hingga tahun 2028. Sementara CEO Société Générale juga menyatakan bahwa tidak ada posisi yang akan luput dari pengurangan. Meski demikian, ada pula pemimpin bank yang mengingatkan agar tetap berhati-hati dalam pengurangan ini agar tidak mengorbankan pengetahuan fundamental para bankir junior. Tantangan terbesar ke depan adalah keseimbangan antara memanfaatkan kemajuan teknologi dengan kebutuhan untuk menjaga kualitas sumber daya manusia yang menjadi tulang punggung sektor perbankan. Jika terlalu mengandalkan AI dan menghilangkan kesempatan belajar bagi karyawan baru, maka di masa depan, bank dapat menghadapi kekurangan tenaga ahli yang memahami seluk-beluk perbankan secara menyeluruh.