
Larry Page, salah satu pendiri Google dan orang terkaya kedua di dunia, diketahui memiliki harta kekayaan sebesar Rp 4.49 quadriliun (US$269 miliar) atau sekitar Rp4.500 triliun. Meski sukses di berbagai sektor bisnis, termasuk teknologi, otomotif, dan aviasi, ia terlihat mengambil langkah drastis terkait pajak yang diusulkan di negara bagian domisilinya, California.
California berencana mengenakan pajak kekayaan sebesar 5% untuk individu yang memiliki aset senilai lebih dari Rp 16.70 triliun (US$1 miliar) . Aturan ini ini diterapkan dengan tujuan mengurangi kesenjangan kekayaan dan mendapatkan tambahan pendapatan untuk negara bagian, namun menuai penolakan dari beberapa miliarder.
Sebagai bentuk antisipasi, Larry Page memutuskan memindahkan hubungan dengan California lewat Family Office miliknya bernama Koop serta mengonversi beberapa perusahaannya ke Delaware. Beberapa perusahaan milik Page yang dipindahkan antara lain Flu Lab LCC, One Aero, dan Dynatomics, yang sebelumnya berkantor di Florida juga turut ikut dipindahkan.
Langkah ini juga didukung dengan beredarnya kabar bahwa Larry Page secara pribadi sudah tidak lagi bermukim di California. Keputusan ini tidak hanya diambil Larry Page saja, karena beberapa tokoh penting lain seperti David Sacks, Palmer Luckey, dan Alexis Ohanian juga menyuarakan penolakan mereka atas pajak kekayaan baru yang diusulkan ini.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan terkait efektivitas kebijakan pajak kekayaan dan bagaimana para miliarder mungkin menggunakan strategi perpindahan domisili dan aset agar terhindar dari pajak tambahan. Jika tren ini terus berlanjut, negara bagian seperti California bisa mengalami pengurangan pendapatan pajak yang signifikan.