TLDR
Multitasking dapat merugikan kinerja kognitif dan membuat kita tidak menyadari penurunan tersebut. Kualitas keterlibatan dengan informasi lebih penting daripada kuantitas konsumsi konten. Kesulitan dalam belajar dapat menjadi alat yang efektif untuk membangun pengetahuan yang lebih mendalam dan bertahan lama. Artikel ini menyebutkan bahwa meskipun kita hidup di era dengan akses informasi yang sangat besar, keluhan tentang memori buruk dan kesulitan berkonsentrasi semakin meningkat. Penelitian menunjukkan bahwa multitasking tidak benar-benar melakukan dua tugas sekaligus, melainkan membuat otak cepat berganti fokus sehingga menurunkan performa kognitif. Ini menjelaskan mengapa multitasking berat berasosiasi dengan penurunan fungsi memori dan perhatian.Selain multitasking, konsumsi konten digital secara pasif juga berdampak buruk pada kemampuan berpikir kritis dan daya ingat. Algoritma media sosial yang mengutamakan konsumsi tanpa refleksi menggantikan proses berpikir mendalam dengan pemikiran dangkal. Akibatnya, kemampuan menilai informasi secara kritis menurun, dan ketergantungan pada alat digital melemahkan kemampuan otak untuk menyimpan dan mengolah informasi secara mandiri.Pendekatan belajar yang mudah dan cepat juga merugikan karena melewatkan apa yang disebut 'desirable difficulties'—tantangan belajar yang sebenarnya memperkuat memori dan pemahaman. Oleh karena itu, membiasakan diri berfokus pada satu tugas, merenungkan informasi, dan memilih jalan belajar yang menantang dapat memperbaiki kualitas kognisi. Karena otak plastis, kebiasaan buruk dapat diperbaiki dengan latihan yang konsisten.