Apple Hadapi Krisis Chip dengan MacBook Neo Murah, Tapi Suplai Chip Makin Menipis
Teknologi
Kecerdasan Buatan
09 Apr 2026
146 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Krisis kelangkaan chip memori diakibatkan oleh permintaan tinggi untuk teknologi AI.
Strategi harga murah Apple untuk MacBook Neo sukses menarik perhatian pasar, tetapi menimbulkan tantangan dalam produksi.
Apple harus menghadapi dilema antara meningkatkan biaya produksi atau menghentikan varian produk yang paling terjangkau.
Dunia menghadapi krisis kelangkaan chip memori akibat prioritas produksi chip kapasitas tinggi untuk AI yang mengurangi produksi chip tradisional. Apple merilis MacBook Neo termurah dengan harga Rp 10.00 triliun (US$599 m) enggunakan chip sisa A18 Pro dari iPhone 16 Pro untuk mengisi celah pasar. Penjualan MacBook Neo sangat tinggi, bahkan melampaui ekspektasi Apple di tengah keterbatasan suplai chip.
Apple hanya berencana memproduksi 5-6 juta unit MacBook Neo dengan chip sisa tersebut, tapi permintaan yang tinggi membuat chip sisa habis lebih cepat. Produsen chip TSMC mencapai kapasitas maksimal produksi chip 3nm, sehingga jika Apple ingin memesan chip baru harus membayar lebih tinggi. Apple harus memilih antara menaikkan harga atau menghentikan varian termurah demi menyeimbangkan biaya produksi.
Pilihan Apple termasuk menaikkan harga MacBook Neo, menghentikan varian penyimpanan 256GB, atau menunda rilis generasi baru hingga 2027. Jika tidak diselesaikan, konsumen berpotensi kecewa karena stok habis dan harga naik. Namun, MacBook Neo berhasil menarik pelanggan baru ke ekosistem Apple, membuktikan tingginya minat terhadap laptop Apple yang terjangkau.
Analisis Ahli
Tim Culpan
Penggunaan chip sisa adalah strategi adaptif Apple dalam menghadapi krisis chip, namun kapasitas produksi terbatas TSMC menjadi kendala utama yang harus dihadapi oleh Apple sekarang.

