Persaingan Amerika dan Cina dalam Perlombaan Mendaratkan Manusia di Bulan 2030
Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
02 Apr 2026
48 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
China dan Amerika Serikat sedang berlomba untuk kembali ke permukaan Bulan.
Kapsul Mengzhou dan pendarat Lanyue adalah bagian dari rencana ambisius China untuk eksplorasi lunar.
Rimae Bode dipilih sebagai lokasi potensial untuk pendaratan lunar karena keunikannya dalam geologi.
NASA meluncurkan misi Artemis II sebagai bagian dari upaya kembalinya manusia ke Bulan pada tahun 2028. Misi ini merupakan langkah lanjutan setelah keterlambatan pada pengembangan perangkat keras seperti lander. Namun, Amerika Serikat menghadapi rival serius dari Cina yang menargetkan misi berawak ke Bulan pada tahun 2030.
Cina menggunakan kapal ruang angkasa Mengzhou bersama roket Long March 10 serta lander Lanyue yang akan bergabung di orbit bulan. Sejak 2007, Cina juga menunjukkan keunggulan dengan berbagai misi robotik dan pengembalian sampel bulan, serta rencana membangun stasiun riset internasional dengan Rusia. Program ini menunjukkan kesiapan Cina yang cukup matang untuk eksplorasi luar angkasa lebih lanjut.
Persaingan ini menunjukkan potensi Cina menjadi negara pertama yang mendaratkan manusia di Bulan sejak misi Apollo 17 pada 1972. Rencana pembangunan pangkalan bulan oleh kedua negara dapat membawa perubahan signifikan dalam eksplorasi luar angkasa dan geopolitik teknologi masa depan yang juga memacu investasi dan inovasi di bidang antariksa.
Analisis Ahli
Quentin Parker
Cina hampir siap untuk peluncuran berawak di orbit dan memiliki peluang kuat untuk mencapai Bulan terlebih dahulu dengan jadwal yang ketat dan disiplin.Bhavya Lal
Persaingan geopolitik dengan Cina mendorong Amerika Serikat dalam membangun pangkalan Bulan, tetapi motivasi politik mungkin tidak cukup untuk mendukung komitmen jangka panjang yang dibutuhkan.


