Raknehaugen: Tumpukan Prasejarah Skandinavia Bukan Makam, Melainkan Pelindung Bencana
Sains
Iklim dan Lingkungan
29 Mar 2026
254 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Raknehaugen bukanlah situs pemakaman, melainkan struktur yang dibangun untuk melindungi dari bencana.
Penelitian ini membuka perspektif baru dalam memahami monumentalisme di Zaman Besi, dengan fokus pada praktik ritual kolektif.
Perubahan iklim dan bencana alam memiliki dampak signifikan pada masyarakat dan dapat memicu tindakan kolektif untuk memulihkan stabilitas.
Raknehaugen, tumpukan prasejarah terbesar di Skandinavia, yang selama ini diyakini sebagai makam bangsawan Zaman Besi, ternyata bukan makam. Studi baru yang dipublikasikan dalam European Journal of Archaeology menemukan tidak ada bukti penguburan; tulang yang ditemukan lebih tua dan tidak terkait dengan makam.
Peneliti Lars Gustavsen menggunakan analisis LiDAR dan menemukan adanya bekas tanah longsor raksasa dekat Raknehaugen. Pembuatan tumpukan ini terjadi sekitar tahun 551 Masehi, sekitar 15 tahun setelah letusan vulkanik Dust Veil 536 yang menyebabkan krisis iklim besar dan bencana alam.
Berdasarkan temuan ini, Raknehaugen dipahami sebagai respons ritual kolektif untuk menghadapi bencana tanah longsor dan mengembalikan tatanan sosial dan kosmologis. Studi ini menggugurkan interpretasi lama dan membuka peluang baru untuk menafsirkan monumen Zaman Besi sebagai bagian dari ritual dan perlindungan masyarakat terhadap bencana.
Analisis Ahli
Lars Gustavsen
Raknehaugen bukan hanya sebuah monumen, melainkan bagian dari lanskap sakral yang mencerminkan ritus kolektif untuk mengatasi bencana dan mengembalikan harmoni sosial.Archaeology Professor John Hines
Jika temuan ini diterima secara luas, maka banyak monumen yang selama ini dianggap makam mungkin memiliki fungsi ritual dan ekologis yang lebih kompleks.

