Mengapa Wall Street Menolak Blockchain Terbuka dan Pilih Jaringan Privat
Finansial
Perbankan dan Layanan Keuangan
26 Mar 2026
31 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Transparansi penuh dalam blockchain tidak sesuai dengan kebutuhan institusi keuangan.
Kebutuhan akan privasi dan kontrol data menjadi faktor kunci dalam adopsi teknologi blockchain oleh institusi.
Stablecoin semakin menjadi bagian integral dari infrastruktur keuangan tradisional.
Institusi keuangan tradisional menolak penggunaaan blockchain yang transparan karena setiap perdagangan yang terlihat secara publik dapat merugikan strategi dan memicu dampak harga yang besar. Don Wilson dari DRW menjelaskan bahwa publikasi semua transaksi dianggap tidak sesuai dengan tugas fiduciary seorang manajer dana.
Ethereum dan Bitcoin, yang dikenal sebagai blockchain publik dengan data yang sepenuhnya terbuka, sulit diterima oleh bank besar seperti JPMorgan yang sudah membuat jaringan blockchain privat untuk menjaga kontrol akses dan kepatuhan. Stablecoin seperti USDC dan RLUSD justru mendapat tempat karena sesuai dengan regulasi dan dukungan institusional.
Masa depan tokenisasi dan adopsi blockchain institusional akan semakin fokus pada jaringan permissioned yang menjaga privasi, membatasi visibilitas transaksi, dan mencegah praktik tidak sehat seperti front-running. Transformasi ini penting agar blockchain dapat diintegrasikan ke sistem finansial besar tanpa mengorbankan prinsip pengelolaan risiko.
Analisis Ahli
Don Wilson
Transparansi penuh pada blockchain bertentangan dengan kepentingan manajer dana dan risiko pasar, sehingga institusi akan lebih memilih blockchain privat yang membatasi visibilitas dan mengutamakan privasi.

