Krisis Pabrik di Dongguan: Dampak Transformasi Ekonomi China terhadap Pekerja Manufaktur
Bisnis
Ekonomi Makro
21 Mar 2026
202 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Peralihan ekonomi di China menciptakan ketidakpastian bagi pekerja di sektor tradisional.
Pekerja migran seperti Zhang Li menghadapi tantangan besar setelah kehilangan pekerjaan.
Meskipun perusahaan besar mengalami pertumbuhan, banyak pabrik kecil menutup operasi mereka dan meninggalkan pekerja tanpa pekerjaan.
Pada bulan Desember, Everwin Toys di Dongguan menghentikan produksinya akibat penurunan permintaan mainan dan penurunan pendapatan lebih dari 40%. Pekerja seperti Zhang Li, yang telah bekerja selama lebih dari 15 tahun, menghadapi ketidakpastian akibat penutupan pabrik ini.
Perubahan ekonomi China didorong oleh ketegangan dagang global dan kemajuan teknologi, menyebabkan perusahaan teknologi maju pesat sementara pabrik tradisional mengalami stagnasi dan penutupan. Data menunjukkan China mencatat surplus perdagangan lebih dari 1 triliun USD tahun lalu, namun pekerja manufaktur tidak merasakan manfaat secara merata.
Konsekuensinya, terjadi polarisasi ekonomi yang jelas antara perusahaan maju dan pekerja yang terbengkalai. Jika tidak ada solusi untuk pelatihan ulang dan perlindungan sosial pekerja, ketimpangan ini dapat memperburuk kondisi sosial dan ekonomi di wilayah manufaktur seperti Dongguan.
Analisis Ahli
Justin Yifu Lin (Ekonom dan mantan Kepala Ekonom Bank Dunia)
China perlu mengimplementasikan kebijakan yang menyeimbangkan transformasi teknologi dengan perlindungan bagi tenaga kerja manufaktur agar pertumbuhan inklusif dapat tercapai.

