TLDR
Konflik dalam tim adalah hal yang normal, namun penting untuk mengelolanya dengan cara yang sehat. Refleksi diri dan komunikasi terbuka dapat memperbaiki dinamika tim setelah konflik. Membangun framework untuk mengelola konflik sejak awal dapat membantu dalam pertumbuhan perusahaan. Konflik antara pendiri dan tim dalam startup adalah hal yang biasa dan penting untuk diantisipasi agar tidak merusak budaya perusahaan. Ian Schmidt dari Trimergence menawarkan pendekatan yang sistematis untuk melakukan upgrade pada 'human operating system' guna mengelola konflik lebih baik. Dengan framework ini, komunikasi dan penyelesaian konflik bisa menjadi lebih konstruktif.Framework yang diajarkan meliputi refleksi internal (internal 360), pengenalan pola perilaku yang memicu konflik, dan reparasi interpersonal dengan tim yang terdampak. Proses ini mendorong pemimpin dan anggota tim untuk bertanggung jawab atas bagian mereka dan membuka dialog untuk menyelaraskan kembali hubungan kerja. Pendekatan ini bisa dipraktikkan sejak awal pembentukan tim dan berpotensi diskalakan.Dengan mengelola konflik dengan cara ini, startup dapat meningkatkan kepercayaan dan kualitas komunikasi antar anggota tim. Hal tersebut membantu menciptakan budaya yang positif dan growth-minded, sehingga tim lebih siap menghadapi tantangan bersama. Podcast Build Mode dan acara seperti Startup Battlefield serta TechCrunch Disrupt memberikan platform bagi pembelajaran dan pengembangan ini.