Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Harga Minyak Melonjak, Pasar Saham Korea dan Jepang Terpuruk Lebih Dalam

Bisnis
Ekonomi Makro
SCMP SCMP
17 Mar 2026
139 dibaca
1 menit
Harga Minyak Melonjak, Pasar Saham Korea dan Jepang Terpuruk Lebih Dalam

Rangkuman 15 Detik

Krisis minyak global telah menyebabkan penurunan yang signifikan di pasar saham Korea Selatan dan Jepang.
Kedua negara tersebut sangat bergantung pada impor energi, yang meningkatkan kerentanan mereka terhadap fluktuasi harga minyak.
Kenaikan harga minyak dapat mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi, yang menjadi tantangan bagi kebijakan moneter di Asia.
Harga minyak dunia naik tajam akibat perang AS-Israel dengan Iran yang bermula pada 28 Februari, menyebabkan penurunan pasar saham global terutama di Korea Selatan dan Jepang. Pelemahan pasar di kedua negara ini lebih besar dibandingkan Eropa, karena ketergantungan mereka yang tinggi terhadap impor energi. Pasar ini mencerminkan kerentanan ekonomi terhadap guncangan pasar energi dan ketidakpastian geopolitik. Indeks Kospi Korea Selatan turun 12 persen dan Nikkei 225 di Jepang turun hampir 9 persen sejak awal konflik. Korea Selatan membatasi kenaikan harga minyak dalam usaha menekan inflasi, sementara Jepang menghadapi tekanan inflasi yang meningkat yang menyulitkan kebijakan Bank of Japan. Pasar saham di Eropa turun sekitar 7 persen dan China relatif stabil dengan penurunan kurang dari 1 persen karena fokus mereka pada energi terbarukan. Kenaikan harga minyak yang melebihi 100 dolar AS per barel diperkirakan akan menambah 0,7 poin persentase inflasi global dan mengurangi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,4 poin persentase. Asia sebagai wilayah paling bergantung pada impor energi, terutama Korea Selatan dan Jepang, menghadapi risiko pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang meningkat, sehingga menimbulkan tantangan besar bagi para pembuat kebijakan ekonomi.

Analisis Ahli

Ray Sharma-Ong
Reaksi pasar saham yang tajam di Jepang, Korea, dan Taiwan menunjukkan bagaimana ketergantungan energi impor memperburuk dampak geopolitik dan memicu rotasi investasi ke aset defensif.