Menyingkap Gelembung Data dan Krisis Pemikiran di Era AI
Courtesy of Forbes

Menyingkap Gelembung Data dan Krisis Pemikiran di Era AI

Mengajak pembaca memahami bahwa gelombang investasi besar pada AI dan data center merupakan bagian dari ‘bubble’ data yang harus dihadapi dengan pemahaman kritis, menjauhi hype semata dan fokus pada fondasi data yang nyata, sekaligus memperingatkan soal bahaya hilangnya proses berpikir kritis akibat ketergantungan AI dalam penulisan dan produksi konten.

28 Feb 2026, 02.22 WIB
48 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Investasi besar dalam infrastruktur data menunjukkan potensi pertumbuhan AI, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang overinvestasi.
  • Penggunaan AI dalam penulisan dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis dan kreativitas yang penting dalam komunikasi.
  • India berusaha untuk menjadi pusat data global dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
India - Investasi dunia untuk data center dijadwalkan mencapai 1,7 triliun dolar pada tahun 2030, dengan Microsoft, Amazon, Meta, dan Google menghabiskan 670 miliar dolar tahun ini saja. Skala ini bahkan lebih besar dari pembangunan rel kereta api di tahun 1850-an atau pendaratan di bulan pada 1960-an. Namun, di balik angka besar ini muncul kekhawatiran bahwa investasi tersebut berisiko berlebihan dan menciptakan gelembung ekonomi yang membuat para investor cemas.
Perusahaan teknologi raksasa menghabiskan lebih dari 100 juta dolar untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah, yang mungkin memperlambat regulasi AI. Hal ini menimbulkan ketegangan antara kebutuhan inovasi dan pengaturan yang ketat. Sementara itu, sebagian pengelola dana berpendapat perusahaan-perusahaan mengeluarkan dana terlalu banyak untuk pembaruan infrastruktur IT dan integrasi AI, yang memengaruhi nilai pasar perangkat lunak secara drastis.
Fenomena baru juga muncul dalam cara narasi dan opini pasar terbentuk. Kini, influenser pasar bisa bukan lagi analis tradisional, melainkan pengguna media sosial dan AI yang membuat konten dengan biaya sangat rendah. Richard Rumelt menyebut ini sebagai runtuhnya biaya persuasi, di mana otoritas dan narasi palsu bisa dengan mudah dibuat dan disebarkan, membingungkan publik dan investor.
Tidak hanya sektor bisnis yang mendapat dampak, budaya berpikir kritis di dalam perusahaan juga mulai terganggu karena semakin banyak penggunaan AI dalam penulisan dokumen penting. Misalnya, di Amazon yang mulai mendorong karyawan menggunakan AI untuk menulis, yang menghilangkan proses refleksi dan penalaran yang biasa terjadi lewat menulis secara manual. Ini memperlihatkan risiko kehilangan kemampuan berpikir kritis di era digital yang tergesa-gesa.
Meski begitu, cerita manusia dan sisi positif AI juga ada, misalnya cerita tentang robot AI ElliQ yang membantu warga lansia tetap tinggal di rumah mereka dengan memberi pertolongan sosial dan emosional. India menjadi contoh negara yang berusaha menyeimbangkan penggunaan AI dengan budaya dan nilai kemanusiaan agar teknologi bisa benar-benar melayani kesejahteraan semua orang dan bukan menggantikan manusia.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/gilpress/2026/02/27/the-state-of-the-17-trillion-ai-bubble-the-end-of-thinking/

Analisis Ahli

Richard Rumelt
"Biaya persuasi kini sangat murah sehingga otoritas bisa dibangun secara artifisial, menimbulkan risiko besar bagi keaslian informasi dan keputusan yang berbasis data yang valid."
Bethany McLean
"Narasi pasar kini lebih dikendalikan oleh media sosial dan platform baru daripada analis bank investasi tradisional, menciptakan dinamika yang tidak stabil dan seringkali irasional."

Analisis Kami

"Investasi masif pada data center dan AI memang menunjukkan potensi besar, tapi tanpa fokus pada infrastruktur data yang handal dan budaya berpikir kritis, gelombang ini bisa jadi hanya membengkak tanpa hasil nyata. Ketergantungan pada AI untuk penulisan melemahkan proses pemikiran manusia yang menjadi fondasi inovasi sejati."

Prediksi Kami

Di masa depan, akan semakin banyak skenario dan prediksi menakutkan dari berbagai sumber, termasuk AI murni, yang berpotensi memperparah kebingungan dan memanipulasi opini publik, sementara investasi data center dan AI terus melonjak namun tanpa jaminan efisiensi atau pemanfaatan optimal yang bisa memicu bubble ekonomi.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang dimaksud dengan gelembung AI?
A
Gelembung AI merujuk pada investasi yang sangat besar dan ekspektasi yang tinggi terhadap teknologi AI yang mungkin tidak dapat dipenuhi.
Q
Mengapa Wall Street khawatir tentang investasi besar di pusat data?
A
Wall Street khawatir bahwa perusahaan mungkin berinvestasi terlalu banyak dalam infrastruktur dan integrasi AI yang tidak akan memberikan pengembalian yang diharapkan.
Q
Apa yang dikhawatirkan tentang penggunaan AI dalam penulisan?
A
Ada kekhawatiran bahwa penggunaan AI dalam penulisan dapat mengurangi pemikiran kritis dan kreativitas dalam proses penulisan.
Q
Bagaimana India berencana untuk mengubah infrastruktur datanya?
A
India berencana untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan dan pengolahan data untuk mendukung strategi AI-nya dan meningkatkan kontribusinya terhadap data global.
Q
Apa tujuan dari robot AI ElliQ yang dikembangkan oleh Intuition Robotics?
A
ElliQ dirancang untuk menjadi teman bagi orang lanjut usia, membantu mereka tetap terhubung dan aktif.