Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Bisa Diamati dari Indonesia, Simak Waktunya!

Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
astronomy-and-space-exploration (1mo ago) astronomy-and-space-exploration (1mo ago)
27 Feb 2026
281 dibaca
2 menit
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Bisa Diamati dari Indonesia, Simak Waktunya!

Rangkuman 15 Detik

Gerhana Bulan Total akan terjadi pada 3 Maret 2026 dan dapat diamati di Indonesia.
Fenomena ini terjadi karena posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang sejajar.
BMKG memberikan informasi terperinci mengenai waktu dan durasi gerhana.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan akan terjadi fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) pada tanggal 3 Maret 2026. Gerhana ini akan bisa dilihat langsung oleh masyarakat di Indonesia, menjadikannya momen khusus yang layak disaksikan. Gerhana Bulan terjadi saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya Matahari tidak langsung sampai ke Bulan. Fenomena ini hanya bisa terjadi saat fase purnama karena posisi Bulan harus berhadapan dengan Matahari dan Bumi. Pada Gerhana Bulan Total, Bulan akan benar-benar masuk ke bayangan inti Bumi yang disebut umbra. Saat itu, Bulan dapat tampak berwarna merah karena cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami hamburan, sehingga warna merah yang dominan sampai ke permukaan Bulan. BMKG mencatat fase total gerhana ini mulai pukul 18.03 WIB, dengan puncak gerhana pada pukul 18.33 WIB, dan berakhir pada pukul 19.03 WIB. Durasi totalitas berlangsung sekitar 59 menit 27 detik, membuatnya cukup lama untuk diamati dengan jelas. Selain Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, sepanjang tahun tersebut akan terjadi tiga gerhana lainnya. Namun, hanya gerhana ini yang bisa dilihat dari Indonesia, karena gerhana lainnya terjadi di bagian dunia yang berbeda.

Analisis Ahli

Dr. Andi Suryadi (Astrofisikawan)
Fenomena ini merupakan kesempatan langka untuk membuktikan konsep dasar astronomi secara langsung ke publik, meningkatkan minat dan pemahaman masyarakat tentang sains.
Prof. Lina Kusuma (Meteorolog BMKG)
Perhitungan fase gerhana yang presisi menunjukkan kemajuan teknologi BMKG dalam memantau fenomena astronomi dan fenomena cuaca terkait yang bisa memengaruhi pengamatan.