AI summary
Tiongkok sedang mengembangkan meriam 155 mm untuk meningkatkan kemampuan angkatan lautnya. Pengujian sistem senjata baru menunjukkan komitmen Tiongkok untuk memperkuat pertahanan maritimnya. Meriam baru ini dapat meningkatkan kemampuan tembakan jarak jauh dan mendukung operasi amfibi. China kini sedang menguji coba meriam laut baru berkaliber 155 mm, yang dipasang di kapal uji Type 910 di sebuah galangan kapal di kota Dalian. Meriam ini berpotensi menjadi senjata artileri terbesar yang pernah dipasang di kapal milik Angkatan Laut Pembebasan Rakyat.Berbeda dengan meriam 130 mm yang biasa terpasang di kapal perusak dan fregat PLAN, meriam 155 mm ini memiliki kaliber lebih besar dan mampu menembakkan proyektil berpemandu. Ini berarti tembakannya bisa lebih tepat dan berjarak lebih jauh untuk serangan ke darat atau pantai.Dalam beberapa gambar juga terlihat bahwa meriam ini diuji pada kapal amfibi tipe 071. Hal ini menunjukkan bahwa China mungkin ingin menggabungkan kemampuan meriam besar dengan operasi pendaratan dan amfibi yang semakin mereka kembangkan.Sistem meriam 155 mm ini diproduksi oleh pabrik bernama State Factory 447 dan dirancang untuk penggunaan amunisi panduan yang lebih modern, meski rincian teknis dan uji tembaknya belum dipublikasikan secara resmi ke publik.Pengembangan ini penting karena memperkuat kemampuan PLAN untuk melakukan dukungan artileri laut dalam operasi melawan sasaran di darat, khususnya di wilayah sengketa seperti Laut China Selatan dan kawasan sekitar Taiwan, yang menunjukkan ambisi strategis militer China.
Pengembangan meriam laut 155 mm ini menandakan bahwa China tak hanya fokus pada rudal dan teknologi canggih, tapi juga mengingat pentingnya artileri laut dalam peran dukungan tembakan amfibi dan operasi pantai. Ini bisa jadi langkah cerdik untuk memperkuat keunggulan tembakan presisi di kawasan yang rawan konflik, meskipun harus diwaspadai masalah integrasi dan biaya amunisi berpemandu yang biasanya mahal.