
Courtesy of TechCrunch
Ribuan Pekerja Teknologi Desak CEO Lawan Kekerasan ICE di Kota-Kota AS
Mengajak para CEO perusahaan teknologi besar untuk menekan pemerintah agar menghentikan operasi keras ICE di kota-kota AS dan membatalkan kontrak teknologi dengan ICE demi menghentikan kekerasan yang menimpa komunitas lokal.
26 Jan 2026, 23.26 WIB
117 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Pekerja teknologi bersatu menentang kebijakan ICE yang dianggap kekerasan.
- Tindakan ICE telah memicu respons luas dari berbagai pemimpin industri teknologi.
- Ada tekanan terhadap CEO untuk mengakhiri kontrak dengan ICE dan mengambil sikap lebih jelas.
Minneapolis, Amerika Serikat - Lebih dari 450 pekerja teknologi dari perusahaan besar seperti Google, Meta, OpenAI, dan Amazon menandatangani surat terbuka meminta CEO mereka untuk mendesak pemerintah AS agar menghentikan operasi ICE yang dianggap menimbulkan ketakutan dan kekerasan di kota-kota besar seperti Minneapolis dan Los Angeles. Surat ini mengatakan bahwa operasi yang dilakukan ICE di kota-kota tersebut sudah seperti pendudukan militer dan menyebabkan kerusuhan serta penindasan masyarakat setempat.
Insiden penembakan dua warga sipil oleh agen ICE dan Border Patrol di Minneapolis menjadi titik awal meningkatnya tekanan dari para pekerja teknologi. Mereka menggambarkan bagaimana aparat tersebut menggunakan cara-cara kekerasan seperti semprotan lada, gas air mata, peluru karet, dan senjata suara terhadap para demonstran dan warga sipil yang menentang operasi imigrasi ini. Mereka mendesak agar kekerasan ini segera dihentikan dan menuntut agar perusahaan teknologi turut berperan dalam perubahan positif.
Surat tersebut juga menyoroti bahwa beberapa perusahaan teknologi seperti Palantir, Clearview AI, dan penyedia layanan cloud seperti AWS, Microsoft, dan Oracle masih memiliki kontrak bernilai jutaan dolar dengan ICE. Hal ini membuat tuntutan pembatalan kontrak menjadi tantangan besar karena menyangkut nilai finansial besar sekaligus kredibilitas perusahaan dalam hal isu HAM.
Sementara sejumlah tokoh penting di industri teknologi seperti Reid Hoffman dan Jeff Dean sudah menyuarakan kritik keras terhadap kekerasan ICE, mayoritas CEO perusahaan teknologi besar belum berani secara terbuka menentang pemerintah. Bahkan beberapa dari mereka seperti Jeff Bezos, Tim Cook, Sundar Pichai, dan Mark Zuckerberg diketahui pernah memberikan dukungan atau donasi pada kegiatan pemerintahan Trump, yang sekarang mengintensifkan operasi ketat ICE.
Para pekerja teknologi yang menandatangani surat ini meminta agar para CEO berani bertindak seperti saat mereka berhasil membatalkan ancaman pengiriman National Guard ke San Francisco dan menyerukan agar semua kontrak teknologi dengan ICE dibatalkan demi mengakhiri penindasan dan kekerasan yang sedang terjadi. Mereka juga menekankan bahwa industri teknologi memiliki kekuatan besar dalam mengubah kebijakan sosial dan politik demi keadilan.
Referensi:
[1] https://techcrunch.com/2026/01/26/tech-workers-call-for-ceos-to-speak-up-against-ice-after-the-killing-of-alex-pretti/
[1] https://techcrunch.com/2026/01/26/tech-workers-call-for-ceos-to-speak-up-against-ice-after-the-killing-of-alex-pretti/
Analisis Ahli
Reid Hoffman
"Cara operasi ICE adalah sangat merugikan bagi masyarakat yang terdampak."
Vinod Khosla
"Penegakan hukum yang dilakukan ICE yang berlebihan adalah contoh macho ICE yang berbahaya dan didukung oleh administrasi yang tidak berperikemanusiaan."
Jeff Dean
"Setiap orang tanpa memandang afiliasi politik harus mengecam eskalasi kekerasan oleh ICE."
James Dyett
"Industri teknologi lebih banyak menunjukkan kemarahan terhadap isu pajak kekayaan daripada tindakan kekerasan berbalut penegakan hukum oleh ICE."
Meredith Whittaker
"Teknologi harus lebih berani melawan ketidakadilan ketika kebebasan masyarakat justru terancam oleh aparat yang seharusnya melindungi."
Analisis Kami
"Ketika industri teknologi mulai mengambil sikap lebih tegas terhadap masalah sosial-politik seperti ini, hal itu menunjukkan meningkatnya kesadaran dan kekuatan kolektif mereka yang sebelumnya kurang dimanfaatkan. Namun, tindakan diam sebagian CEO besar mengindikasikan adanya konflik kepentingan yang besar antara nilai moral dan manfaat finansial dari kontrak dengan pemerintah."
Prediksi Kami
Tekanan dari pekerja teknologi dan publik kemungkinan akan mendorong beberapa perusahaan membatalkan kontrak dengan ICE, serta meningkatkan perdebatan publik dan politik mengenai operasi imigrasi di AS ke depan.





