Aplikasi ‘Dead or Alive’ Cina yang Flirt dengan Tema Kematian Kini Bernilai Jutaan Dollar
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
13 Jan 2026
262 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Aplikasi 'Dead or Alive' mencerminkan tren hidup sendirian di kalangan generasi muda di Tiongkok.
Konsep aplikasi ini mengangkat tema kematian dengan cara yang menghibur dan menarik.
Aplikasi ini menunjukkan potensi besar dalam pasar aplikasi yang tidak biasa dan inovatif.
Aplikasi ponsel asal China bernama 'Dead or Alive' kini menjadi salah satu aplikasi teratas di negara itu dengan tema unik yang menghibur sekaligus tentang kematian, sebuah tema yang biasanya dianggap tabu dalam banyak budaya.
Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna untuk melakukan check-in harian dengan menekan tombol hijau besar yang menandakan mereka masih 'hidup'. Jika tidak melakukan check-in selama dua hari berturut-turut, aplikasi mengirim notifikasi ke kontak darurat pengguna.
Biaya pengembangan aplikasi ini cukup rendah, yakni sekitar Rp 2.34 juta (US$140) , namun valuasi aplikasinya telah melonjak hingga mencapai Rp 23.38 miliar (US$1,4 juta) , yang menunjukkan potensi ekonomi dari ide aplikasi ini.
App ini merupakan produk dari Ele.me, raksasa pengantaran makanan di China yang kini berada di bawah Alibaba dan telah direvitalisasi menjadi Taobao Shangou, mencerminkan ide kreatif dalam penawaran layanan mereka.
Fenomena ini juga menunjukkan perubahan gaya hidup anak muda China yang semakin banyak memilih tinggal sendiri dan membutuhkan cara baru untuk terhubung dengan komunitas dan terjamin keamanannya.
Analisis Ahli
Dr. Li Wei (Psikolog Klinis)
Pendekatan interaktif yang digunakan oleh aplikasi ini dapat membantu mengurangi rasa kesepian dan kecemasan pada individu yang tinggal sendiri dengan memberikan rasa aman dan koneksi sosial melalui notifikasi darurat.Prof. Zhang Rong (Ahli Teknologi Informasi)
Model pengembangan aplikasi dengan biaya rendah namun bisa meningkatkan nilai pasar secara signifikan menunjukkan potensi besar dari ekosistem startup teknologi di China, terutama yang menyasar kebutuhan sosial dan psikologis.

