Hacker Hapus Situs Ekstremis Kulit Putih Secara Langsung di Konferensi Hamburg
Courtesy of TechCrunch

Hacker Hapus Situs Ekstremis Kulit Putih Secara Langsung di Konferensi Hamburg

Mengungkap dan menindak situs-situs supremasi kulit putih yang memiliki keamanan buruk sekaligus membocorkan data mereka sebagai bentuk perlawanan terhadap ideologi tersebut.

06 Jan 2026, 01.57 WIB
176 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Hacktivis dapat menggunakan keterampilan mereka untuk melawan ekstremisme online.
  • Keamanan siber yang buruk dapat mengakibatkan kebocoran data pribadi yang sensitif.
  • Konferensi seperti Chaos Communication Congress menjadi platform untuk tindakan protes yang kreatif dan berani.
Hamburg , Jerman - Seorang hacker yang dikenal dengan nama samaran Martha Root menghebohkan acara tahunan Chaos Communication Congress yang diadakan di Hamburg, Jerman, dengan tindakan berani menghapus tiga situs skinhead dan supremasi kulit putih secara langsung di atas panggung. Situs yang dihapus adalah WhiteDate, WhiteChild, dan WhiteDeal, yang semuanya kini belum kembali online. Aksi ini menarik perhatian banyak orang karena cara pelaksanaannya yang langsung dan terbuka.
Ketiga situs tersebut menawarkan layanan kontroversial untuk komunitas rasial ekstrem, seperti layanan kencan khusus yang dijuluki 'Tinder untuk Nazi' dan bahkan pasar kerja untuk kaum supremasi. Keamanan ketiga situs ini sangat buruk, sehingga hacker dapat dengan mudah menyusup menggunakan chatbot AI yang dapat melewati verifikasi konten situs tersebut dengan menipu sistem agar menganggap mereka 'berkulit putih'.
Data dari situs WhiteDate berhasil diunduh oleh Martha Root dan mengungkap sejumlah besar informasi pribadi pengguna, termasuk gambar, deskripsi, usia, lokasi tepat berdasar metadata gambar, dan atribut lainnya. Data ini kemudian dipublikasikan secara online, memperlihatkan betapa ceroboh pihak pengelola dalam mengamankan situsnya. Organisasi DDoSecrets juga menerima data ini dan memberikan akses terbatas untuk jurnalis dan peneliti terpercaya.
Administrator situs-situs ini mengonfirmasi bahwa situs mereka telah diretas dan menganggap tindakan hacker sebagai bentuk terorisme siber, bahkan mengklaim akun X mereka sempat dihapus. Namun tidak ada respons langsung terhadap permintaan komentar dari media yang mencoba menghubungi mereka melalui email yang sudah diketahui. Identitas asli pengelola situs diduga seorang perempuan dari Jerman, namun belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Aksi penghapusan situs dan pembocoran data ini memicu diskusi di masyarakat dunia maya tentang bagaimana kelompok ekstremis harus dihadapi, keamanan siber yang sering diabaikan bahkan oleh kelompok berbahaya, dan bagaimana upaya perlawanan melalui teknologi bisa menjadi cara efektif namun kontroversial untuk melawan kebencian dan ekstremisme.
Referensi:
[1] https://techcrunch.com/2026/01/05/hacktivist-deletes-white-supremacist-websites-live-on-stage-during-hacker-conference/

Analisis Ahli

Brian Krebs
"Infiltrasi menggunakan AI chatbot menunjukkan perlunya metode verifikasi yang jauh lebih kuat. Situasi ini memberi contoh nyata bagaimana keamanan situs yang tampak sederhana dapat dengan mudah dieksploitasi."
Eva Galperin
"Menghapus situs supremasi kulit putih adalah tindakan moral yang penting, tapi penting untuk memastikan data yang bocor tidak disalahgunakan dan privasi individu harus tetap diperhatikan dalam konteks lebih luas."

Analisis Kami

"Aksi Martha Root ini menunjukkan betapa rentannya situs-situs dengan ideologi ekstrem bisa dibongkar jika tidak mengutamakan keamanan siber. Ini juga membuka perdebatan tentang batasan tindakan aktivisme di dunia maya yang bisa menjadi kontroversial tapi efektif dalam melawan kelompok berbahaya."

Prediksi Kami

Tindakan peretasan ini kemungkinan akan memicu reaksi lebih keras dari kelompok supremasi kulit putih dan meningkatkan diskusi terkait keamanan dan etika di dunia maya, serta potensi regulasi lebih ketat terhadap situs ekstremis.