AI summary
Model baru menunjukkan bahwa Uranus dan Neptun mungkin memiliki lebih banyak batuan di dalamnya daripada yang diperkirakan. Penelitian ini dapat membantu menjelaskan medan magnet kompleks yang dimiliki kedua planet. Diperlukan misi luar angkasa lebih lanjut untuk mendapatkan data yang lebih akurat tentang Uranus dan Neptun. Para ilmuwan sebelumnya menganggap Uranus dan Neptunus sebagai 'raksasa es' karena inti mereka diduga terutama terdiri dari air beku dan es yang dikompresi. Namun, model baru yang dikembangkan oleh Luca Morf dan Ravit Helled dari Universitas Zurich menunjukkan kemungkinan adanya kandungan batu yang jauh lebih banyak di dalam inti kedua planet ini.Model yang mereka buat menggabungkan pendekatan fisika dengan data observasi, sehingga lebih realistis dan tidak terlalu bergantung pada asumsi saja. Dengan cara ini, mereka mencoba menentukan bagaimana kepadatan di inti berubah sesuai jarak dari pusat dan menyesuaikan model tersebut berdasarkan gaya gravitasi masing-masing planet.Hasilnya menunjukkan delapan kemungkinan struktur inti, tiga di antaranya memiliki rasio batu yang lebih tinggi dibandingkan air atau es. Penemuan ini menantang pandangan selama ini bahwa Uranus dan Neptunus harus diklasifikasikan murni sebagai 'raksasa es'.Selain itu, model tersebut juga menemukan adanya lapisan air dalam fase ionik di dalam inti planet yang dapat turut menjelaskan medan magnet unik kedua planet yang memiliki lebih dari dua kutub magnetik. Jarak sumber medan magnet juga berbeda antara Uranus dan Neptunus menurut model ini.Karena data yang ada cukup terbatas, terutama hanya dari misi Voyager 2 di era 1980-an, para peneliti menekankan kebutuhan akan misi baru yang lebih canggih untuk secara langsung menguji dan memperbaiki model ini, sehingga dapat mengungkap rahasia sebenarnya dari 'raksasa es' di tata surya kita.
Pendekatan hybrid ini merupakan langkah maju yang sangat diperlukan karena menggabungkan kekuatan model fisika dan data observasi, yang selama ini berjalan terpisah dan memiliki keterbatasan masing-masing. Namun, tanpa misi baru yang dapat memberikan data segar dan lengkap, model ini masih berisiko tersesat dalam asumsi yang belum tentu akurat.