TLDR
Kebijakan ekonomi Tiongkok untuk tahun 2026 diharapkan akan fokus pada permintaan domestik dan inovasi teknologi. Investor mencari sinyal positif dari pemerintah untuk memperpanjang momentum pasar saham. Indeks CSI 300 menunjukkan kesulitan dalam membangun keuntungan baru di tengah tantangan ekonomi. Reli saham di Tiongkok mengalami dorongan kuat sepanjang tahun ini, namun baru-baru ini mulai melemah akibat perlambatan ekonomi yang lebih luas dan penurunan harga properti. Investor kini menunggu hasil dari Central Economic Work Conference, pertemuan tahunan yang menetapkan kebijakan ekonomi makro untuk tahun berikutnya, agar bisa mendapatkan arahan lebih jelas terkait dukungan kebijakan.Pertemuan yang akan dihadiri oleh Presiden Xi Jinping dan pemimpin utama lainnya ini sangat ditunggu karena diharapkan akan mengumumkan kebijakan fiskal yang lebih proaktif dan kebijakan moneter yang tetap akomodatif. Fokus utama adalah memperkuat permintaan dalam negeri, menggalakkan inovasi teknologi, serta memangkas kapasitas yang berlebihan terutama di sektor ekonomi hijau.Menurut analisis, jika pemerintah mempercepat pengeluaran fiskal atau defisit, sektor-sektor seperti saham berkapitalisasi kecil dan konsumen discretionary yang berisiko tinggi, seperti perusahaan retail, akan mendapatkan peluang perdagangan yang menarik. Namun, harapan ini juga harus dilihat dengan hati-hati mengingat pasar sudah mengantisipasi beberapa sentimen positif sebelumnya.Sementara itu, indeks saham utama di Tiongkok, CSI 300, selama sebulan terakhir belum berhasil melanjutkan kenaikan karena data ekonomi menunjukkan melambatnya pertumbuhan dan kondisi properti yang memburuk. Hal ini membuat kebutuhan akan kebijakan yang tepat semakin mendesak agar momentum positif tetap dapat dipertahankan.Secara keseluruhan, konferensi ini menjadi titik penting untuk memberikan sinyal langkah pemerintah dalam mengelola perekonomian tahun 2026, demi menjaga stabilitas dan mendukung kelangsungan kenaikan pasar saham yang saat ini sedang stagnan.