TLDR
Perovskit berbasis timah menunjukkan stabilitas yang lebih baik dibandingkan perovskit berbasis timbal. Penggunaan pelarut alternatif dapat mengurangi oksidasi timah dan meningkatkan kualitas perovskit. Penelitian ini membuka peluang untuk pengembangan sel surya yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Perovskit telah lama dianggap sebagai teknologi masa depan untuk sel surya karena efisiensinya yang tinggi. Namun, masalah utama yang menghambat penggunaan luas adalah ketidakstabilan bahan akibat migrasi ion halida yang menyebabkan degradasi dan penurunan kinerja seiring waktu.Peneliti dari HZB dan Universitas Potsdam menemukan bahwa senyawa perovskit berbasis timah yang diproduksi dengan menggunakan pelarut alternatif DMF-DMI memiliki densitas ion yang sangat rendah, bahkan sepuluh kali lebih rendah dibandingkan perovskit berbasis timbal yang umum digunakan.Selain itu, perovskit timah menunjukkan waktu degradasi lima kali lebih lambat, memberikan stabilitas yang lebih lama dan mempertahankan efisiensi dalam jangka waktu operasi yang lebih panjang, yaitu lebih dari 600 jam tanpa penurunan signifikan.Perbedaan dalam pelarut yang digunakan sangat penting karena pelarut DMSO yang kuat bisa menyebabkan oksidasi timah, sedangkan pelarut alternatif membantu menjaga kualitas material serta mengurangi kandungan ion bergerak yang biasanya mempercepat degradasi.Temuan ini menunjukkan bahwa perovskit berbasis timah memiliki potensi untuk menjadi bahan utama dalam pengembangan sel surya ramah lingkungan dan tahan lama, yang dapat mengatasi kendala utama teknologi perovskit saat ini dan membuka jalan untuk komersialisasi yang lebih luas.