Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Melindungi Bumi dari Ancaman Asteroid: Sistem Pertahanan Planet Sedang Dibangun

Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
InterestingEngineering InterestingEngineering
20 Nov 2025
127 dibaca
3 menit
Melindungi Bumi dari Ancaman Asteroid: Sistem Pertahanan Planet Sedang Dibangun

Rangkuman 15 Detik

Asteroid dapat menimbulkan ancaman serius bagi Bumi, seperti yang terlihat dalam peristiwa Chelyabinsk.
NASA dan komunitas internasional sedang bekerja keras untuk mendeteksi dan mengalihkan asteroid yang berpotensi berbahaya.
Misi seperti DART menunjukkan bahwa kita dapat mengubah jalur asteroid jika kita memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan.
Pada tanggal 15 Februari 2013, sebuah asteroid besar yang berukuran enam lantai dan memiliki berat hampir 10.000 ton memasuki atmosfer di atas kota Chelyabinsk, Rusia. Asteroid ini bergerak dengan kecepatan lebih dari 64.000 km/jam dan meledak sekitar 19-24 km di atas kota, melepaskan energi ledakan 30-40 kali lebih kuat dari bom Hiroshima. Ledakan ini menyebabkan ribuan jendela pecah, 7.200 bangunan rusak, dan lebih dari 1.500 orang luka-luka, tetapi beruntung tidak ada korban jiwa. Asteroid merupakan sisa-sisa kuno dari pembentukan tata surya yang berumur lebih dari empat miliar tahun. Mereka mengorbit Matahari dengan kecepatan dan lintasan yang berbeda-beda. Sebuah asteroid menjadi ancaman serius jika lintasannya bersinggungan dengan Bumi dan ditentukan oleh tiga faktor utama: sudut masuk ke atmosfer, komposisi asteroid, dan ukurannya. Misalnya, asteroid berbatu yang rapuh cenderung meledak di udara seperti peristiwa Chelyabinsk dan Tunguska, sedangkan asteroid logam bisa menabrak permukaan dan menimbulkan kerusakan besar. Sejak tahun 1998, NASA mendapatkan mandat dari Kongres AS untuk mengidentifikasi dan melacak benda dekat Bumi (NEO) berukuran lebih dari 1 kilometer, yang kemudian diperluas menjadi semua NEO yang lebih besar dari 140 meter. Berbagai observatorium dan komunitas astronomi di seluruh dunia bekerja sama dalam pemantauan ini, termasuk proyek seperti Spacewatch dan organisasi Planetary Society. Data yang terkumpul dianalisis oleh CNEOS untuk menentukan risiko tumbukan dalam 100 tahun ke depan serta memberikan peringatan dini bila diperlukan. Meskipun deteksi sudah berjalan dengan baik, masih terdapat titik buta karena banyak asteroid sangat gelap dan sulit dideteksi dengan teleskop yang menggunakan cahaya tampak. Untuk itu NASA mengembangkan teleskop luar angkasa NEO Surveyor yang menggunakan sensor infra merah dan dapat mengamati hingga 30 juta0.00 km (mil) dari Bumi. Diharapkan teleskop ini mulai beroperasi setelah tahun 2027 dan mampu mengidentifikasi dua pertiga dari semua NEO berukuran lebih besar dari 140 meter. Menemukan asteroid saja tidak cukup, upaya mengalihkan jalur asteroid jauh lebih penting. Pada tahun 2021, NASA berhasil menguji metode ini lewat misi DART yang menabrakkan pesawat ruang angkasa ke bulan kecil asteroid bernama Dimorphos. Dampak ini berhasil mempersingkat orbit Dimorphos secara signifikan, menunjukkan bahwa pengalihan jalur asteroid memang memungkinkan. Berbagai negara lain juga mengembangkan teknologi serupa, dan metode alternatif seperti traktor gravitasi dan deflektor ion mulai dipertimbangkan agar Bumi lebih terlindungi dari ancaman asteroid di masa depan.

Analisis Ahli

Bill Nye
Partisipasi komunitas amatir meningkatkan data astronomi secara signifikan sehingga membantu deteksi asteroid secara lebih cepat dan akurat.