TLDR
Paradoks dalam universum tertutup menunjukkan keterbatasan pemahaman kita tentang kompleksitas fisik. Peran pengamat mungkin penting dalam menjelaskan fenomena kuantum dan gravitasi. Konsep holografi dapat mengubah cara kita melihat hubungan antara ruang dan informasi dalam fisika. Para fisikawan telah menggunakan teori kuantum dan gravitasi untuk membayangkan berbagai bentuk alam semesta dan menyelesaikan teka-teki lama tentang lubang hitam. Namun, ketika mereka menerapkan teori ini pada alam semesta yang tertutup, mereka menemukan hasil yang mengejutkan — hanya ada satu keadaan kuantum yang mungkin di alam semesta tersebut.Penemuan ini bertentangan dengan kenyataan dunia kita yang penuh dengan bintang, planet, lubang hitam, dan makhluk hidup. Dengan kata lain, kompleksitas dan keragaman yang kita saksikan tidak tercermin dalam model matematika yang mereka gunakan. Ini menimbulkan paradox yang sangat sulit untuk dijelaskan.Salah satu terobosan penting dalam fisika modern adalah konsep holografi, yang menggambarkan dunia 3D dalam bentuk bayangan pada batas 2D, seperti hologram. Konsep ini memudahkan perhitungan dalam teori string tapi hanya berlaku pada alam semesta dengan batas, seperti anti-de Sitter.Ketika konsep tersebut diterapkan pada alam semesta tertutup tanpa batas, para ilmuwan seperti Maldacena dan rekan-rekannya menemukan bahwa ruang Hilbert yang menggambarkan kemungkinan keadaan alam semesta menjadi hanya satu dimensi. Penelitian lebih lanjut oleh Zhao dan timnya menunjukkan bahwa keberadaan pengamat sebagai batas baru mengembalikan kompleksitas dunia yang nyata.Jika gagasan ini benar, maka paradigma fisika harus berubah dari mencari deskripsi objektif yang berdiri sendiri tentang alam semesta menjadi memahami bahwa semua pengamatan dan kompleksitas bergantung pada keberadaan pengamat. Ini akan membawa dampak besar dalam cara kita memahami realitas dan kosmologi kuantum.