AI summary
Film 'Frankenstein' menyuguhkan kualitas produksi yang tinggi berkat Guillermo del Toro. Jacob Elordi mendapatkan pengakuan internasional berkat penampilannya dalam film ini. Meskipun hanya tayang terbatas di bioskop, 'Frankenstein' menjadi salah satu film orisinal Netflix dengan skor tertinggi. Film Frankenstein yang disutradarai oleh Guillermo del Toro dan dibintangi Jacob Elordi serta Oscar Isaac memilih jalur distribusi melalui Netflix daripada rilis bioskop tradisional. Meski begitu, film ini memang sempat tayang di beberapa bioskop sebelum akhirnya dirilis secara global lewat platform streaming tersebut.Film ini berhasil mendapatkan respons yang sangat positif dari penonton dengan nilai 95% di Rotten Tomatoes, mendekati rekor tertinggi yang dipegang oleh film KPop Demon Hunters dengan nilai 99%. Sementara itu, penilaian dari para kritikus lebih rendah yaitu 85%, tetapi tetap menunjukkan kualitas yang bagus.Frankenstein dinilai menjadi pencapaian terbesar Guillermo del Toro karena berhasil mendapatkan skor audiens terbaik sepanjang kariernya. Film ini menjadi film live-action Netflix dengan skor audiens tertinggi di tahun 2025 meski banyak rilisan Netflix pada tahun tersebut merupakan film animasi.Jacob Elordi, aktor utama film ini, mendapatkan pujian besar setelah penampilannya di Venice Film Festival, termasuk menerima standing ovation selama 15 menit. Peran ini menjadi titik balik penting dalam kariernya di dunia perfilman internasional.Film Frankenstein kini menduduki peringkat teratas pada daftar top 10 Netflix dan layak dipertahankan posisinya. Keaslian penggunaan set dan kostum praktis oleh del Toro menambah kualitas sinematik film ini, sekaligus membuktikan bahwa film horor dapat dinikmati sepanjang tahun.
Keputusan del Toro untuk bekerja sama dengan Netflix menunjukkan perubahan besar dalam cara film besar dibuat dan didistribusikan, mengandalkan streaming daripada rilis bioskop tradisional. Hal ini membuka jalan bagi karya berkualitas tinggi dengan eksposur global yang cepat, meski masih ada tantangan dalam mempertahankan prestise sinematik konvensional.