Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Drone Kecil dengan Navigasi Suara untuk Misi di Lingkungan Berbahaya

Teknologi
Robotika
robotics (4mo ago) robotics (4mo ago)
02 Nov 2025
170 dibaca
2 menit
Drone Kecil dengan Navigasi Suara untuk Misi di Lingkungan Berbahaya

Rangkuman 15 Detik

Proyek ini bertujuan mengembangkan robot kecil yang dapat bernavigasi menggunakan suara di lingkungan sulit.
Hibah dari NSF akan mendanai penelitian selama tiga tahun untuk mengeksplorasi teknologi baru dalam navigasi robot.
Inovasi ini dapat meningkatkan kemampuan robot dalam misi pencarian dan penyelamatan di tempat yang tidak dapat dijangkau dengan sistem visi tradisional.
Para peneliti di Worcester Polytechnic Institute (WPI) mengembangkan teknologi navigasi suara untuk drone kecil yang bisa bekerja di lingkungan yang sulit, seperti ruangan berasap, berdebu, dan gelap. Teknologi ini terinspirasi dari cara burung dan kelelawar menggunakan suara untuk melihat dan bergerak di sekitar mereka, khususnya echolocation dengan gelombang ultrasonik. Sistem ini dirancang supaya drone dapat bergerak dengan mandiri tanpa menggunakan kamera atau sensor cahaya yang biasanya tidak efektif dalam kondisi ekstrem. Para peneliti juga menciptakan metamaterial khusus untuk mengurangi kebisingan dari baling-baling drone yang mengganggu sinyal ultrasonik. Selain itu, mereka juga mengembangkan metode lain seperti sayap yang berkedip untuk mengurangi interferensi suara. Di sisi perangkat lunak, mereka memakai teknologi belajar mendalam yang diinformasikan oleh fisika untuk mengolah sinyal ultrasonik serta menggunakan pembelajaran penguatan bertingkat agar drone bisa bergerak menuju tujuan sambil menghindari rintangan secara dinamis. Semua pemrosesan dilakukan langsung di dalam drone tanpa bergantung pada perangkat eksternal. Proyek ini didanai oleh National Science Foundation dengan dana sebesar 704.908 dolar selama tiga tahun mulai September 2025. Tujuannya adalah menciptakan drone yang kecil, hemat energi, dan terjangkau untuk digunakan dalam operasi penyelamatan, inspeksi lingkungan berbahaya, dan monitoring bencana yang sulit dijangkau oleh sensor visual biasa. Peneliti berharap dalam tiga hingga lima tahun, teknologi ini dapat diterapkan di dunia nyata, termasuk kemungkinan penggunaan ultrasonografi untuk mendeteksi detak jantung korban dalam operasi pencarian. Lebih jauh, drone ini dapat digunakan dalam bentuk swarm untuk meningkatkan efisiensi misi di berbagai kondisi menantang.

Analisis Ahli

Nitin Sanket
Dengan dukungan pendanaan NSF, pengembangan sistem echolocation pada drone ini membuka peluang besar dalam bidang robotika otonom di lingkungan sulit, menggabungkan inovasi material dan AI untuk solusi navigasi yang resilient.