UPS Teken Pemangkasan 48.000 Karyawan dan Fokus Efisiensi di 2025
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
29 Okt 2025
71 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
UPS mengumumkan pemotongan besar dalam tenaga kerja sebagai bagian dari strategi efisiensi.
Perusahaan mengalami penurunan volume pengiriman dari Amazon, yang berdampak pada kinerja mereka.
Saham UPS naik meskipun mengalami tekanan, menunjukkan optimisme pasar setelah pengumuman pemotongan dan efisiensi.
UPS baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengurangi tenaga kerja sebesar 48.000 karyawan sepanjang tahun 2025 sebagai bagian dari upayanya meningkatkan efisiensi operasional dan memangkas biaya. Langkah ini merupakan bagian dari dua inisiatif besar, yaitu Efficiency Reimagined dan Fit to Serve, yang masing-masing menargetkan pengurangan sumber daya operasional dan manajemen.
Pemotongan karyawan ini terjadi bersamaan dengan penurunan signifikan dalam volume pengiriman dari Amazon, salah satu mitra besar UPS. Amazon telah menurunkan keterlibatan pengiriman dengan UPS hingga lebih dari setengahnya pada tahun 2026, membuat UPS harus menyesuaikan strategi layanan dan jaringannya.
Meskipun menghadapi sejumlah tantangan, UPS melaporkan hasil keuangan kuartal ketiga yang melampaui ekspektasi pasar. Mereka memproyeksikan pendapatan kuartal berikutnya bisa naik menjadi sekitar 24 miliar USD, lebih tinggi dibandingkan dengan hampir 21,4 miliar USD yang dilaporkan pada kuartal ketiga.
Sebagai bagian dari penyesuaian, UPS juga telah menutup total 93 fasilitas sepanjang tahun ini, termasuk 19 tambahan yang ditutup pada kuartal terakhir. Penutupan ini bertujuan untuk mengoptimalkan jaringan logistik dalam menghadapi perubahan pola permintaan dan pengurangan volume pengiriman dari klien besar seperti Amazon.
Meski saham UPS sempat naik 8% setelah pengumuman, secara keseluruhan performa saham UPS masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu, dengan penurunan lebih dari 20%. Sementara itu, perusahaan lain seperti Amazon, Target, dan Meta juga melakukan pengurangan tenaga kerja yang besar sebagai respons terhadap kondisi ekonomi yang berubah.
Analisis Ahli
Ken Hoexter
Permintaan yang datar memaksa perusahaan untuk lebih agresif dalam mengendalikan biaya, yang terlihat jelas dalam langkah pengurangan jumlah pegawai dan penutupan fasilitas oleh UPS.