Baidu Ubah Mesin Pencari dengan AI Generatif Canggih, Tantang Google dan Microsoft
Teknologi
Kecerdasan Buatan
24 Okt 2025
114 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Baidu sedang mengubah pengalaman pencarian dengan mengintegrasikan AI untuk menghasilkan respons yang lebih cerdas dan personal.
Persaingan dengan Alphabet dan Microsoft semakin ketat dalam pengembangan teknologi pencarian berbasis AI.
Keberhasilan jangka panjang Baidu tergantung pada kemampuan mereka untuk menjaga kualitas dan relevansi informasi yang dihasilkan oleh AI.
Baidu meluncurkan transformasi besar pada mesin pencarinya dengan menggunakan teknologi AI generatif yang didasarkan pada model ERNIE. Perubahan ini membuat pencarian menjadi lebih dari sekadar menampilkan tautan statis, melainkan menawarkan jawaban cerdas yang bisa menggunakan gambar, video, dan berinteraksi langsung dengan pengguna secara percakapan.
Teknologi baru ini sudah digunakan oleh lebih dari 90% pengguna aplikasi Baidu per bulan sejak Juli 2024, menandakan adopsi yang sangat cepat dalam ekosistemnya. Baidu berusaha menggabungkan fungsi pencarian dengan berbagai layanan nyata seperti peta, informasi museum, dan alat pembayaran agar pengguna bisa langsung menyelesaikan tugas mereka dari hasil pencarian.
Namun, ada risiko besar terkait dengan kualitas dan akurasi informasi yang diberikan oleh AI generatif. Kesalahan informasi atau halusinasi yang muncul bisa menurunkan kepercayaan pengguna yang menjadi kunci keberhasilan teknologi ini. Hal ini juga tercermin dari perkiraan pendapatan Baidu yang diprediksi turun hampir 10% pada kuartal ketiga 2025.
Persaingan dalam pengembangan AI Search semakin ketat dengan Alphabet melalui Google dan Microsoft dengan Bing dan teknologi OpenAI. Kedua perusahaan ini juga aktif mengembangkan fitur-fitur AI yang bersifat multimodal dan asisten percakapan untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan mengoptimalkan personalisasi iklan serta layanan.
Meski berhadapan dengan tantangan, saham Baidu mengalami kenaikan hampir 39% tahun ini. Dari segi valuasi, Baidu masih berada di bawah rata-rata industri dengan rasio harga terhadap laba sekitar 14,24 kali, menunjukkan potensi yang masih menarik bagi investor walau harus menghadapi ketidakpastian dalam jangka pendek.