Palantir Tolak Proyek Identitas Digital Inggris, Fokus Bisnis AI Pertahanan
Teknologi
Kecerdasan Buatan
05 Okt 2025
145 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Palantir menunjukkan bahwa mereka tidak akan mengejar setiap peluang pendapatan jika ada risiko reputasi yang tinggi.
Keputusan Palantir untuk menolak kontrak identitas digital mencerminkan fokus pada proyek yang lebih etis dan berisiko lebih rendah.
Pendapatan Palantir terus tumbuh, terutama dalam sektor pemerintahan, meskipun ada kontroversi terkait dengan proyek tertentu.
Palantir adalah perusahaan teknologi yang terkenal dalam pengembangan AI kelas pertahanan yang digunakan oleh militer dan pemerintahan. CEO Alex Karp menyatakan keyakinan kuat terhadap pertumbuhan perusahaan, yang didukung oleh lonjakan sahamnya hingga tiga digit tahun ini. Palantir banyak berperan dalam proyek pemerintah, terutama dalam integrasi AI untuk tugas-tugas kritis yang membutuhkan kecepatan dan ketelitian tinggi.
Meskipun Palantir menikmati pertumbuhan pendapatan besar di sektor pemerintah, perusahaan baru-baru ini memilih keluar dari program identitas digital pemerintah Inggris yang bernilai antara £1,2 miliar hingga £2 miliar. Kepala kantor Inggris, Louis Mosley, menyebut proyek ini 'undemokratis' dan menyuarakan kekhawatiran mengenai keamanan data yang akan disimpan di dompet digital pada ponsel pengguna.
Dukungan publik untuk identitas digital wajib menurun drastis dari 53% menjadi hanya 31%, dengan 45% menolak kebijakan tersebut. Palantir memilih tidak mengajukan tawaran untuk kontrak ini karena adanya risiko besar terhadap mandat demokrasi dan potensi masalah keamanan yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi perusahaan.
Di sisi lain, Palantir terus mengembangkan bisnisnya yang lebih aman dan kurang kontroversial, terutama proyek NHS Federated Data Platform senilai £330 juta serta berbagai kontrak pertahanan utama di AS. Pendapatan sektor pemerintahan naik signifikan, mencapai Rp 9.24 triliun ($553 juta) di kuartal kedua tahun 2025, menandakan ketergantungan pemerintah semakin kuat pada teknologi AI dari Palantir.
Kontrak besar yang dikelola Palantir termasuk perjanjian 10 tahun dengan U.S. Army senilai hingga Rp 167.00 triliun ($10 miliar) dan berbagai proyek keamanan nasional yang sudah mengimplementasikan AI. Perusahaan ini terus fokus pada solusi berjangka panjang yang tahan risiko, mempersiapkan pertumbuhan yang berkelanjutan di bidang kecerdasan buatan, sekaligus menghindari proyek berpotensi kontroversi tinggi.
Analisis Ahli
Jim Cramer
Palantir menunjukkan sikap bijak dengan memilih proyek yang dapat menguntungkan jangka panjang dan menghindari risiko regulasi yang dapat merusak reputasi.Alex Karp
Kami percaya bahwa keamanan dan mandat demokrasi adalah kunci keberhasilan teknologi AI dalam sektor publik, oleh karena itu kami memilih proyek yang sejalan dengan nilai-nilai tersebut.