Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Bitcoin Raih Rekor Harga Baru Rp 1,8 Miliar dan Saingi Perusahaan Terbesar S&P 500

Finansial
Mata Uang Kripto
YahooFinance YahooFinance
05 Okt 2025
301 dibaca
2 menit
Bitcoin Raih Rekor Harga Baru Rp 1,8 Miliar dan Saingi Perusahaan Terbesar S&P 500

Rangkuman 15 Detik

Bitcoin mencapai rekor harga baru, menunjukkan minat yang terus meningkat dari investor.
Kapitalisasi pasar Bitcoin mendekati nilai perusahaan besar di S&P 500.
Kenaikan volume perdagangan dapat menjadi indikator baik untuk harga Bitcoin ke depan.
Bitcoin, mata uang kripto terkemuka dunia, baru saja mencapai harga tertinggi baru yang menembus angka sekitar 125.400 dolar AS, mengalahkan rekor sebelumnya yang dicapai pada bulan Agustus lalu. Setelah itu, harga sempat turun sedikit dan diperdagangkan di kisaran 123.000 dolar AS. Total nilai pasar bitcoin sekarang mencapai sekitar 2,45 triliun dolar AS, dan jika digabung dengan semua aset kripto lainnya, totalnilainya mencapai 4,21 triliun dolar AS menurut data dari CoinMarketCap. Ini menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan beberapa bulan lalu saat harga bitcoin berada di bawah 80.000 dolar AS. Dalam beberapa bulan terakhir, volume perdagangan bitcoin di berbagai bursa kripto meningkat, terutama sejak akhir September. Volume yang meningkat ini biasanya dianggap sebagai sinyal positif yang mendukung kenaikan harga lebih lanjut. Beberapa analis, termasuk dari JPMorgan, melihat lonjakan bitcoin saat ini sebagai bagian dari strategi investasi yang dikenal sebagai ‘debasement trade’ di mana investor mencari aset yang bisa melindungi nilai mereka dari risiko inflasi, ketidakpastian politik, dan melemahnya pengaruh dolar AS secara global. Dengan adanya peluncuran beberapa ETF kripto baru dan meningkatnya popularitas saham treasury crypto, para analis memperkirakan bahwa bitcoin akan terus naik dan semakin banyak mendapat perhatian dari investor institusional dan ritel di seluruh dunia.

Analisis Ahli

JPMorgan analysts
Memandang bitcoin sebagai aset lindung nilai yang semakin diminati di tengah ketidakpastian geopolitik dan tingginya utang pemerintah, serta tren melemahnya dolar AS.