Membangun Ekosistem Fintech Eropa yang Berkelanjutan dan Kompetitif Global
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
27 Sep 2025
284 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Eropa memiliki potensi besar dalam sektor fintech tetapi perlu memperbaiki ekosistem pendanaan.
Perusahaan fintech Eropa dibangun di atas fondasi yang lebih kuat meskipun menghadapi tantangan dalam akses modal.
Pentingnya membangun pasar yang memungkinkan perusahaan skala menengah untuk berkembang dan terdaftar secara lokal.
Eropa memiliki lebih dari 9.000 perusahaan fintech yang berkembang pesat dan dikenal secara global dengan nama-nama besar seperti Wise, Klarna, dan Revolut. Namun, setelah sempat mengalami lonjakan investasi besar pada tahun 2021, pendanaan pada tahun-tahun berikutnya kembali stabil di level yang lebih realistis, yaitu sekitar angka yang terlihat pada 2019. Hal ini menandai pergeseran dari antusiasme yang berlebihan ke fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan stabil.
Salah satu tantangan utama di Eropa adalah konsentrasi pendanaan pada perusahaan besar. Pada 2025, dua kesepakatan terbesar saja menyumbang hampir setengah dari total pendanaan fintech, sehingga perusahaan kecil hingga menengah kurang mendapatkan akses modal yang cukup. Berbeda dengan Amerika Serikat yang memiliki pasar modal lebih dalam dan beragam, pendanaan di Eropa didominasi oleh venture capital dan investor korporasi, sehingga keberlanjutan pendanaan yang lebih tersebar masih belum optimal.
Eropa juga memiliki backlog besar nilai unicorn teknologi sebesar €300 miliar yang menunggu untuk go public, namun dengan kecepatan listing saat ini, dibutuhkan waktu hampir satu dekade agar seluruh perusahaan tersebut dapat listing di bursa. Kriteria IPO saat ini juga telah menjadi lebih ketat, sehingga perusahaan harus mencapai tingkat pendapatan yang cukup besar untuk bisa masuk pasar modal, sementara banyak yang bisa tumbuh sukses tanpa harus mencapai tahap itu.
Meski demikian, pasar exit perusahaan berkapitalisasi menengah di Eropa sangat aktif dan kompetitif, dengan sekitar 1.000 exit teknologi bernilai antara Rp 1.67 triliun ($100 juta) sampai Rp 8.35 triliun ($500 juta) setiap tahun, setara dengan pasar Amerika Serikat. Hal ini didukung oleh peran besar dari private equity yang melakukan banyak akuisisi mid-cap, sehingga memberikan hasil konstan yang tidak terlalu bergantung pada IPO besar.
Untuk masa depan, Eropa perlu membuka jalur lebih fleksibel bagi perusahaan untuk bisa listing di bursa lokal dan membangun basis investor institusional yang lebih kuat, seperti dana pensiun dan dana kekayaan suverain. Langkah ini penting agar perusahaan fintech kecil dan menengah dapat memperoleh modal yang cukup untuk tumbuh, bersaing secara global, dan memperkuat ekosistem teknologi yang lestari di benua tersebut.
Analisis Ahli
Anne Boden
Pasar modal menengah yang kuat sangat penting untuk menumbuhkan perusahaan fintech yang tahan banting tanpa bergantung pada gelombang pendanaan besar.Chris Skinner
Pendanaan yang tersebar dan investor institusional yang aktif akan memperkuat ekosistem fintech Eropa secara fundamental.