TLDR
AS memiliki cadangan tembaga yang melimpah, tetapi masih bergantung pada impor untuk memenuhi permintaan. Tarif yang diusulkan tidak langsung menyelesaikan masalah ketergantungan pada pemrosesan tembaga domestik. Meningkatkan kapasitas pemrosesan tembaga di AS memerlukan investasi besar dan reformasi regulasi yang signifikan. Amerika Serikat memiliki cadangan tembaga yang cukup besar, sekitar 5,5% dari cadangan dunia, dan menempati posisi keenam dalam kepemilikan cadangan global. Namun, negara ini telah lama bergantung pada impor tembaga untuk memenuhi kebutuhan sektor energi, pertahanan, dan teknologi. Pada tahun 2024, AS mengimpor sekitar 810.000 ton tembaga murni senilai 10 miliar dolar AS, meningkat 5% dibanding tahun sebelumnya.Pemerintahan Trump sejak awal berusaha mengurangi ketergantungan impor dengan mendukung produksi tembaga domestik. Salah satu kebijakan utama adalah pemberlakuan tarif 50% pada produk tembaga setengah jadi seperti kawat dan pipa, sementara tarif pada tembaga murni akan berlaku secara bertahap mulai tahun 2027. Namun, pengumuman ini justru menyebabkan harga tembaga di pasar berjangka turun tajam, karena tarif yang dikenakan dianggap kurang keras dari perkiraan pasar.Salah satu masalah utama AS dalam mengembangkan industri tembaga adalah dominasi China dalam pemurnian tembaga dunia. China menguasai sekitar 97% kapasitas pemurnian global, dengan berbagai dukungan finansial dan pasar yang membuat mereka sangat kompetitif. AS hanya memiliki dua smelter utama dan tidak ada rencana serius untuk menambah kapasitas baru karena biaya operasional yang negatif dan tantangan persaingan dengan China.Selain itu, proses perizinan tambang baru di AS sangat lambat dan birokratis, memerlukan waktu 7-10 tahun dengan banyak peraturan dan campur tangan dari berbagai tingkat pemerintahan. Pemerintah Trump mencoba mempercepat proses ini melalui program FAST-41 untuk proyek mineral kritis, meningkatkan transparansi dan koordinasi antar lembaga. Meskipun demikian, hambatan regulasi tetap menjadi tantangan besar dalam memperluas produksi tembaga domestik.Meski produksi tambang tembaga di AS diperkirakan tumbuh cukup signifikan dengan CAGR 6,5% hingga 2030, kesenjangan besar antara produksi dan konsumsi tembaga yang diproses di dalam negeri masih akan menyulitkan AS untuk mencapai swasembada. Investasi besar-besaran dan perbaikan regulasi serta pengembangan industri daur ulang tembaga sangat dibutuhkan agar AS tidak terus bergantung pada impor untuk menghadapi permintaan yang terus meningkat.