Inovasi Baterai Zinc-Air Terisi Ulang: Tenaga Kuat, Tahan Lama, dan Ramah Lingkungan
Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
23 Sep 2025
202 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Pengembangan baterai zink-udara yang lebih efisien dapat mendukung penyimpanan energi bersih.
Katalis baru yang digunakan menunjukkan potensi untuk meningkatkan daya dan umur baterai.
Inovasi ini membuka peluang untuk aplikasi yang lebih luas dalam kendaraan listrik dan penyimpanan energi skala besar.
Tim peneliti di Monash University Melbourne berhasil mengembangkan baterai zinc-air yang mampu diisi ulang dengan performa luar biasa. Mereka menggunakan bahan 3D yang diolah melalui perlakuan panas menjadi lembaran karbon ultra-tipis dan menambahkan atom kobalt dan besi secara presisi pada level atomik untuk meningkatkan kinerja baterai.
Baterai ini menunjukkan daya tahan luar biasa dengan mampu bertahan selama 74 hari dalam pengujian berkelanjutan dan menjalani hingga 3.570 siklus isi ulang. Hal ini menandai pencapaian penting karena sebelumnya baterai zinc-air dikenal sulit untuk diisi ulang dan jarang tahan lama.
Dalam hal tenaga, baterai ini bisa menghasilkan power density sebesar 229,6 mW/cm2 dan energy density hingga 997 Wh/kg, yang jauh mengungguli katalis bertenaga mahal seperti platinum dan ruthenium. Selain itu, penggunaan bahan yang lebih murah dan melimpah seperti zinc menjadikan baterai ini lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Para peneliti percaya bahwa teknologi ini tidak hanya untuk baterai zinc-air, tetapi juga dapat diterapkan ke berbagai teknologi energi terbarukan lain seperti fuel cell, proses pemisahan air untuk menghasilkan hidrogen, serta konversi karbon dioksida menjadi bahan bakar atau produk lain.
Dahulu, baterai zinc-air hanya digunakan untuk perangkat kecil seperti alat bantu dengar. Dengan inovasi ini, teknologi baterai zinc-air diharapkan bisa masuk ke aplikasi besar seperti kendaraan listrik dan penyimpanan energi skala besar sehingga mendukung masa depan energi bersih global.
Analisis Ahli
John Goodenough
Perkembangan katalis atomik seperti ini adalah lompatan besar untuk baterai metal-air yang selama ini dihambat oleh kestabilan dan efisiensi reaksi elektrokimia.Danielle Galvan
Pendekatan menggunakan doping atomik dan material 3D carbon ini sudah menjadi standar baru dalam pengembangan baterai berkapasitas tinggi dan daya tahan lama.

