AI summary
Intan dapat memberikan wawasan berharga tentang proses geologis di dalam Bumi. Penemuan paduan logam nikel dan karbonat kaya nikel memberikan dukungan terhadap teori pembentukan intan. Temuan ini dapat membantu memahami bagaimana elemen dalam mantel Bumi berkontribusi pada aktivitas vulkanik. Penelitian terbaru dari Hebrew University of Jerusalem menemukan bukti langsung keberadaan paduan logam nikel-besi dan karbonat kaya nikel di dalam mantel Bumi pada kedalaman 280 hingga 470 kilometer di bawah permukaan. Penemuan ini diperoleh dari inklusi kecil yang terperangkap dalam berlian dari tambang Voorspoed di Afrika Selatan.Berlian tersebut tidak hanya berfungsi sebagai batu permata, tetapi juga sebagai kapsul waktu yang merekam kondisi kimia dan fisika di dalam mantel selama jutaan tahun. Inklusi ini memperlihatkan interaksi kimia yang selama ini hanya bisa diprediksi oleh model ilmiah, termasuk pembentukan paduan logam dan karbonat yang biasanya tidak bisa hidup berdampingan.Reaksi kimia yang ditemukan menunjukkan proses redoks metasomatik yang terjadi ketika cairan kaya karbonat yang teroksidasi bertemu dengan batuan mantel yang mengandung logam tereduksi. Proses ini menghasilkan pembentukan berlian dan mengoksidasi batuan di sekitarnya, memberikan gambaran baru tentang bagaimana berlian terbentuk di kedalaman tersebut.Hasil penelitian juga menawarkan penjelasan mengapa berlian sering mengandung atom nikel dalam struktur kristalnya. Temuan ini memperkuat teori bahwa berlian terbentuk dari reaksi antara fluida karbonat dari lempeng tektonik yang tenggelam dan logam di mantel atas, yang juga mempengaruhi pembentukan magma vulkanik seperti kimberlit.Penemuan ini membuka peluang bagi penelitian lebih lanjut dalam memahami dinamika mantel Bumi, proses pembentukan vulkanisme, dan membawa informasi penting bagi eksplorasi geologi di masa depan. Studi ini merupakan hasil kolaborasi internasional dan telah dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience.
Penemuan inklusi paduan logam dan karbonat dalam berlian membuka paradigma baru tentang proses kimia yang terjadi di bawah mantel yang sebelumnya hanya bisa diprediksi melalui model teoretis. Studi ini menegaskan pentingnya metode analisis mikroskopis untuk mengungkap rahasia dalam bumi bagian dalam yang tak terjamah.