10 Saham Biotech Teratas Berbasis AI: Fokus pada Absci Corporation yang Inovatif
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
21 Sep 2025
91 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Absci Corporation memanfaatkan teknologi AI untuk pengembangan terapi biologis.
Perusahaan ini memiliki kemitraan strategis yang kuat dengan Almirall untuk penanganan penyakit kulit.
Pendanaan baru memperkuat posisi finansial dan kapasitas penelitian Absci Corporation.
Absci Corporation adalah perusahaan biotech yang menggabungkan teknologi AI dan otomasi laboratorium untuk mempercepat pengembangan obat biologis. Mereka memiliki platform Integrated Drug Creation (IDC) yang menggunakan algoritma pintar dan rekayasa protein untuk menciptakan antibodi dan enzim baru.
Baru-baru ini, Absci memperluas kerjasamanya dengan Almirall, perusahaan farmasi yang fokus pada dermatologi, dengan program kedua untuk mengobati penyakit kulit kronis. Program ini membuktikan efektivitas teknologi AI mereka dalam menciptakan antibodi yang berfungsi dengan baik.
Untuk memperkuat pengembangan terapi di bidang dermatologi, Absci merekrut dua ahli, Dr. Rodney Sinclair dan Dr. David Goldberg, untuk mempercepat uji klinis terapi AI yang dirancang untuk mengatasi masalah rambut seperti kebotakan androgenetik, yang dijadwalkan mulai diuji secara klinis pada awal 2026.
Absci juga menjalin kerja sama dengan Oracle Cloud Infrastructure dan AMD guna meningkatkan kemampuan teknologi AI mereka. Kerja sama ini memberi akses pada perangkat keras canggih dan sumber daya cloud yang diperlukan untuk mempercepat pelatihan model dan pengolahan data besar.
Secara finansial, Absci berhasil mengumpulkan dana sebesar 64 juta dolar AS pada pertengahan 2025, yang membuat mereka dapat terus beroperasi hingga pertengahan 2028. Dana ini akan digunakan untuk mengembangkan program kunci, termasuk ABS-101 dan ABS-201, serta memperkuat infrastruktur AI mereka.
Analisis Ahli
Dr. Eric Topol
Integrasi AI ke dalam pengembangan obat biologis seperti yang dilakukan Absci dapat merevolusi cara kita menemukan terapi baru, tetapi hasil nyata di pasar tetap bergantung pada validasi klinis yang sukses.Prof. Jennifer Doudna
Menggunakan AI untuk desain protein dan antibodi bisa menjadi langkah besar ke depan, namun peran ahli klinis dan regulasi tetap krusial dalam menjaga keamanan dan efektivitas terapi.