Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Kohl’s Jadi 'Meme Stock', Apakah Saatnya Membeli Saham dengan Harga Turun?

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
investment-and-capital-markets (6mo ago) investment-and-capital-markets (6mo ago)
13 Sep 2025
183 dibaca
2 menit
Kohl’s Jadi 'Meme Stock', Apakah Saatnya Membeli Saham dengan Harga Turun?

Rangkuman 15 Detik

Saham Kohl's mengalami volatilitas tinggi akibat statusnya sebagai 'meme stock'.
Kohl's menghadapi tantangan dalam penjualan dan perilaku pelanggan yang menurun.
Investor perlu berhati-hati karena pergerakan harga yang tajam dapat terjadi dalam situasi seperti ini.
Saham ritel Kohl's turun 4,5% setelah JPMorgan menyebutnya sebagai 'meme stock' yang sedang naik daun akibat tingginya aktivitas di media sosial dan minat beli investor ritel. Namun, tekanan jual dari pihak institusional membuat harga saham mengalami penurunan pada sesi sore. Fenomena meme stock terjadi karena adanya pertentangan antara pembeli ritel yang antusias dan penjual institusional yang melakukan short selling. Dalam kasus Kohl's, trader ritel membeli saham secara besar-besaran sementara hedge funds mengambil posisi short karena fundamental perusahaan yang masih lemah. Kondisi fundamental Kohl's menunjukkan tren menurun, dengan penjualan comparable yang turun 4,2% dan kunjungan pelanggan turun 3,4% pada kuartal kedua tahun 2025. Meskipun laba tahunannya diproyeksikan naik, penurunan penjualan tahunan sebesar 5-6% menjadi sorotan investor. Pergerakan harga saham Kohl's sangat volatil dengan 46 kali kenaikan atau penurunan lebih dari 5% dalam setahun terakhir. Meski saham naik 9,6% sejak awal tahun, harga saat ini masih 27,1% di bawah puncak harga 52 minggu yang tercatat di September 2024. Investor disarankan hati-hati mengingat volatilitas tinggi dan fundamental perusahaan yang belum menunjukkan tanda perbaikan signifikan. Kenaikan harga saham sebab fenomena meme stock bisa berbalik cepat jika tekanan jual kembali meningkat.

Analisis Ahli

JPMorgan
Kohl's masuk ke dalam kategori meme stock yang rentan terhadap fluktuasi pasar akibat tekanan dari retail investor dan short seller institusional, sehingga harga sahamnya dapat mengalami pergerakan yang tidak bisa diprediksi.