Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Otak Tikus Ditemukan 'Saklar' Pengendali Nafsu Makan yang Bisa Hidup Matikan

Sains
Neurosains and Psikologi
News Publisher
10 Sep 2025
301 dibaca
1 menit
Otak Tikus Ditemukan 'Saklar' Pengendali Nafsu Makan yang Bisa Hidup Matikan

AI summary

Penemuan ini menunjukkan bahwa BNST adalah pusat penting dalam pengendalian nafsu makan.
Manipulasi neuron di BNST dapat mempengaruhi perilaku makan tikus secara signifikan.
Penelitian ini memiliki implikasi untuk memahami pengendalian berat badan dan kesehatan manusia.
Para peneliti telah menemukan daerah di otak tikus yang bisa mengontrol nafsu makan seperti sebuah saklar. Dengan mengaktifkan atau mematikan neuron di area ini, konsumsi makanan bisa langsung dipengaruhi, bahkan saat tikus sudah kenyang.Daerah otak ini bernama bed nucleus of the stria terminalis (BNST), yang menghubungkan sinyal rasa lapar, kebutuhan gizi, dan kenikmatan sensorik dari makanan. Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana otak mengatur perilaku makan.Studi menunjukkan bahwa menonaktifkan neuron di BNST mengurangi minat tikus pada makanan manis dan membuat mereka berhenti makan walau lapar. Sebaliknya, mengaktifkan neuron ini membuat tikus tetap makan segala sesuatu termasuk benda yang tidak seharusnya dimakan seperti plastik.Hal ini menandakan BNST memiliki kekuatan besar dalam mengatur konsumsi makanan secara langsung, memisahkan efek kebutuhan fisik dan kesenangan rasa dalam makan. Penemuan ini jadi kunci penting untuk memahami pengendalian berat badan.Temuan ini juga membuka potensi pengembangan terapi baru yang bisa menargetkan BNST untuk mengatasi masalah obesitas dan gangguan makan pada manusia, meski butuh penelitian lebih jauh agar bisa diterapkan dengan aman.

Experts Analysis

Matthew Carter
Studi ini luar biasa karena berhasil memisahkan pengaruh lapar dan kenikmatan rasa pada konsumsi makanan dan menunjukkan peran tunggal BNST sebagai penghubung sinyal tersebut.
Editorial Note
Penemuan fungsi BNST sebagai 'dial' nafsu makan adalah terobosan besar yang bisa mengubah pendekatan pengobatan untuk obesitas. Namun, adaptasi hasil ini ke manusia memerlukan penelitian lanjutan yang hati-hati karena kompleksitas otak dan perilaku makan yang dipengaruhi banyak faktor.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.