Penemuan Diatom Kutub yang Aktif Bergerak di Suhu Ekstrem –15°C
Sains
Iklim dan Lingkungan
10 Sep 2025
265 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Diatom dapat bergerak aktif di suhu ekstrem, menantang asumsi sebelumnya tentang perilaku mereka.
Pergerakan diatom berpotensi mempengaruhi ekosistem Arktik dan rantai makanan.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya penelitian di lingkungan Arktik untuk memahami dampak perubahan iklim.
Para ilmuwan dari Stanford menemukan bahwa diatom, sejenis alga sel tunggal yang hidup di es laut Arktik, mampu bergerak aktif bahkan pada suhu sangat dingin sampai –15°C. Ini adalah gerakan sel kompleks yang terjadi pada suhu terdingin yang pernah tercatat dalam organisme eukariotik, yang biasanya dianggap tidak aktif di suhu seperti itu.
Diatom yang biasanya dianggap terperangkap dan tidak bergerak di dalam es ini ternyata menggunakan mekanisme meluncur dengan mengeluarkan lendir seperti siput untuk bergerak. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel es dari Laut Chukchi dan mengobservasi mereka menggunakan mikroskop khusus di laboratorium yang meniru kondisi alami es laut.
Penemuan ini menunjukkan bahwa diatom Arktik bergerak lebih cepat dibandingkan kerabatnya di wilayah yang lebih hangat. Kemampuan bergerak ini berpotensi memberi keuntungan evolusioner bagi mereka dalam mencari nutrisi dan bertahan di lingkungan ekstrem yang sangat dingin.
Dampak biologis dari fenomena ini sangat penting karena aktivitas diatom ini dapat memengaruhi distribusi nutrisi di bawah es laut, berkontribusi pada rantai makanan dari mikroorganisme sampai predator puncak seperti beruang kutub. Ini memperlihatkan betapa dinamisnya kehidupan bawah es yang selama ini tidak kita sadari.
Namun, perubahan iklim dan mencairnya es Arktik dalam beberapa dekade mendatang dapat menghilangkan habitat penting ini. Peneliti menyoroti perlunya peningkatan pendanaan dan dukungan untuk penelitian kutub agar kita dapat memahami lebih baik dampak perubahan global terhadap ekosistem ini.
Analisis Ahli
Manu Prakash
Mekanisme gerak diatom yang aktif pada suhu -15°C menunjukkan bahwa kehidupan seluler dapat beradaptasi lebih fleksibel daripada yang pernah dibayangkan, dan ini menyatakan urgensi mendukung penelitian di wilayah kutub untuk memahami perubahan ekosistem secara menyeluruh.

