Bullish Berpotensi Kalahkan Coinbase, Tapi Regulasi dan Valuasi Jadi Tantangan
Finansial
Mata Uang Kripto
03 Sep 2025
21 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Bullish memiliki potensi untuk memasuki pasar AS, tetapi ada tantangan regulasi yang signifikan.
Valuasi saham Bullish saat ini dianggap tinggi, dengan kemungkinan peluang pembelian yang lebih baik dalam waktu dekat.
Kinerja Bullish sangat terkait dengan volatilitas harga bitcoin, yang dapat mempengaruhi nilai sahamnya.
Compass Point, sebuah firma riset dan perbankan di Wall Street, baru-baru ini mulai menilai perusahaan kripto Bullish, yang juga pemilik CoinDesk. Mereka memberikan rating netral dengan target harga sebesar Rp 751.50 ribu ($45) per saham. Analis utama, Ed Engel, melihat ada peluang Bullish bisa merebut pasar dari Coinbase di Amerika Serikat karena biaya transaksi yang lebih rendah.
Namun, ada beberapa hambatan besar yang membuat peluang itu sulit dicapai dalam waktu dekat. Salah satunya adalah belum adanya pengesahan undang-undang CLARITY Act yang diharapkan baru akan disahkan pada paruh pertama tahun 2026. Undang-undang ini akan memperjelas kewenangan antara dua badan pengawas di Amerika, yaitu CFTC dan SEC.
Selain itu, regulasi ketat di negara bagian New York yang dikenal dengan BitLicense juga menjadi tantangan besar. Model bisnis Bullish yang menggunakan automated market maker untuk jadi pembuat pasar sendiri bisa menimbulkan kekhawatiran tentang potensi konflik kepentingan di mata regulator. Hal ini membuat waktu masuk Bullish ke pasar AS menjadi sangat terbatas.
Saham Bullish sempat melonjak keras saat IPO pada Agustus lalu, dari harga pembukaan Rp 617.90 ribu ($37) langsung naik sampai Rp 1.14 juta ($68) . Namun kini harga saham turun menjadi sekitar Rp 985.30 ribu ($59) setelah muncul kekhawatiran tentang waktu dan regulasi yang belum pasti. Analis menganggap saham Bullish saat ini masih mahal dengan valuasi 110 kali EBITDA tahun 2026.
Selain itu, performa saham Bullish juga sangat terkait dengan harga bitcoin, karena perusahaan menyimpan treasury terbesar dalam bentuk bitcoin senilai sekitar Rp 45.09 triliun ($2,7 miliar) . Volatilitas bitcoin membuat nilai saham Bullish menjadi tidak stabil. Namun, jika bitcoin benar-benar mencapai harga Rp 2.67 juta ($160.000) dan Bullish berhasil masuk pasar AS, potensi kenaikan saham bisa signifikan.
Analisis Ahli
Ed Engel
Bullish sulit masuk pasar AS tanpa pengesahan CLARITY Act yang akan mengatur batas kewenangan CFTC dan SEC, serta ada risiko valuasi yang terlalu tinggi dengan multiple EBITDA 110 kali.