Tesla Tutup Proyek Dojo, Ambisi AI Superkomputer Gagal Berbuah
Teknologi
Kecerdasan Buatan
02 Sep 2025
50 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Dojo, yang merupakan superkomputer Tesla, dihentikan karena dianggap tidak lagi relevan dalam pengembangan teknologi AI.
Tesla kini beralih ke kemitraan dengan perusahaan lain untuk pengembangan chip AI, mengurangi ketergantungan pada teknologi internal.
Perkembangan proyek seperti Cortex menunjukkan bahwa Tesla masih berkomitmen untuk inovasi dalam AI meskipun menghentikan Dojo.
Tesla telah mengembangkan Dojo selama enam tahun sebagai superkomputer khusus untuk melatih jaringan neural Full Self-Driving (FSD). Dojo dirancang untuk meningkatkan kemampuan AI Tesla dalam mengemudi otonom hanya dengan menggunakan data dari kamera tanpa sensor lain seperti lidar. Proyek ini sebelumnya sangat diandalkan untuk mempercepat peluncuran robotaxi dan robot humanoid milik Tesla.
Namun, Dojo mengalami kendala dan akhirnya diumumkan penutupan proyek pada Agustus 2025. Pengembangan Dojo generasi kedua dianggap bukan lagi arah yang tepat oleh Elon Musk, ia kemudian beralih ke chip AI6 yang diproduksi oleh Samsung dalam kesepakatan senilai Rp 275.55 triliun ($16,5 miliar) . Langkah ini juga disertai dengan pembubaran tim Dojo dan keluarnya pimpinan proyek, Peter Bannon.
Meskipun Dojo sudah digunakan untuk melatih beberapa model AI dan sempat diproyeksikan hingga menjadi salah satu superkomputer terkuat di dunia, detail capaian tersebut tidak pernah dikonfirmasi dan akhirnya hilang dari pembicaraan publik. Sebagai gantinya, Tesla mulai fokus pada proyek baru bernama Cortex yang menggunakan GPU dari Nvidia untuk pelatihan AI di fasilitas Texas mereka.
Tesla sebelumnya berharap pengembangan chip internal akan mengurangi ketergantungan pada Nvidia dan menekan biaya, tetapi ternyata hal tersebut sulit dicapai karena perangkat lunak AI umumnya dirancang untuk berjalan pada GPU konvensional. Selain itu, persaingan dan dinamika pasar chip global memaksa Tesla mengejar kemitraan dengan perusahaan seperti Samsung, Nvidia, dan AMD.
Penutupan proyek Dojo menjadi sinyal perubahan strategi Tesla dalam memanfaatkan kecerdasan buatan. Tesla kini mengadopsi pendekatan yang lebih praktis dengan memanfaatkan kemitraan eksternal, sementara tetap berusaha mewujudkan visi teknologi otonomnya. Ke depan, Tesla mungkin akan lebih fokus pada integrasi AI dengan kendaraan serta layanan robotaxi berbasis teknologi yang sudah tersedia.
Analisis Ahli
Anand Raghunathan
Meskipun pendekatan brute force dengan data besar akan tetap berlanjut dalam waktu dekat, ada batas ekonomi dan informasi dari data tersebut yang dapat mempengaruhi efektifitas peningkatan performa model AI.
