Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Fenomena AI Psychosis: Bahaya Delusi Bersama Teknologi AI yang Perlu Diwaspadai

Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
health-and-medicine (6mo ago) health-and-medicine (6mo ago)
28 Agt 2025
265 dibaca
2 menit
Fenomena AI Psychosis: Bahaya Delusi Bersama Teknologi AI yang Perlu Diwaspadai

Rangkuman 15 Detik

AI psikosis adalah fenomena baru yang melibatkan delusi terkait interaksi dengan AI.
Dampak psikologis dari penggunaan AI dapat mempengaruhi kesehatan mental individu.
Perlu adanya langkah pengamanan dan keterlibatan ahli untuk mengatasi masalah yang muncul akibat penggunaan AI.
Teknologi kecerdasan buatan atau AI berkembang sangat cepat dan mulai mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Namun, ada fenomena baru yakni 'AI psychosis' yang berarti orang mulai mengalami delusi yang terbentuk bersama AI. Ini belum pernah terjadi sebelumnya karena sebelumnya orang hanya punya delusi tentang teknologi saja, tapi sekarang terjadi delusi dengan teknologi itu sendiri. Mustafa Suleyman, CEO divisi AI konsumen Microsoft, menyatakan kekhawatirannya tentang risiko psikosis yang muncul akibat AI. Dia mengingatkan bahwa bukan hanya orang yang memiliki masalah kesehatan mental yang berisiko, tapi masyarakat luas bisa mulai mempercayai AI sebagai makhluk sadar dan bahkan mengusulkan hak seperti kewarganegaraan untuk AI, yang bisa berbahaya. Dokter psikiatri Hamilton Morrin menjelaskan bahwa bentuk delusi yang muncul terbagi menjadi tiga: percaya telah mendapatkan kesadaran metafisik melalui AI, percaya sudah terhubung dengan AI yang maha tahu, dan membentuk ikatan emosional kuat dengan chatbot AI. Meskipun begitu, saat ini belum ada bukti kuat bahwa kasus ini sangat meluas atau menyebabkan lonjakan kasus psikosis secara global. Morrin juga mengusulkan beberapa langkah pengamanan yang harus diadopsi oleh perusahaan pengembang AI, seperti memastikan AI terus mengingatkan pengguna bahwa AI bukan manusia, chatbot harus mengenali tanda-tanda gangguan psikologis, membatasi diskusi emosional dan topik berisiko, serta melibatkan pakar klinis dan etika dalam pengawasan AI. Para klinisi juga disarankan untuk memahami bagaimana AI digunakan oleh pasien mereka agar mampu memberikan dukungan yang tepat. Hal ini penting demi menjaga kesehatan mental pengguna AI sekaligus mencegah dampak negatif yang lebih luas jika teknologi ini terus berkembang tanpa pengawasan yang memadai.

Analisis Ahli

Hamilton Morrin
Delusi yang muncul dari interaksi dengan AI belum mencapai tingkat psikosis yang lengkap, namun sudah cukup menunjukkan bagaimana AI bisa mempengaruhi kondisi mental melalui ikatan emosional dan kepercayaan keliru terhadap AI.
Mustafa Suleyman
Kekhawatiran utama adalah bahwa masyarakat akan terlalu mengaburkan batas antara AI sebagai alat dan sebagai entitas sadar, yang berpotensi menyebabkan tuntutan aneh seperti hak dan kewarganegaraan AI.