Kinerja Nvidia Tembus Ekspektasi di Tengah Ketidakpastian Geopolitik
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
28 Agt 2025
36 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Nvidia mengalami pertumbuhan laba dan pendapatan yang signifikan berkat perkembangan generatif AI.
Perusahaan menghadapi tantangan dalam bisnis data center yang mempengaruhi kinerja sahamnya.
Hubungan geopolitik antara AS dan China mempengaruhi kemampuan Nvidia dalam menjual chip H20.
Nvidia baru saja mengumumkan hasil kuartal kedua yang menunjukkan laba dan pendapatan lebih baik dari perkiraan para analis. Laba per saham mencapai Rp 1.75 juta (US$1,05) atau sekitar Rp 17.100, melampaui estimasi yang hanya Rp 1.69 juta (US$1,01) . Pendapatan perusahaan juga meningkat signifikan menjadi Rp 780.56 triliun (US$46,74 miliar) atau sekitar Rp 764,8 triliun, sementara para analis memperkirakan pendapatan hanya mencapai Rp 769.20 triliun (US$46,06 miliar) .
Meskipun saham Nvidia sudah naik 35% sejak awal tahun, terjadi penurunan harga saham dalam perdagangan berjalan. Ini disebabkan ketidaksesuaian pendapatan dari bisnis data center untuk dua kuartal berturut-turut. Para investor mulai khawatir dengan konsistensi pertumbuhan di segmen penting tersebut.
Harta kekayaan CEO Nvidia, Jensen Huang, ikut turun sedikit akibat fluktuasi saham, dengan nilai kekayaan mencapai Rp 2.63 quadriliun (US$157,7 miliar) atau sekitar Rp 2.576 triliun setelah terkoreksi Rp 2.44 triliun (US$146 juta) . Namun secara keseluruhan, pendapatan Nvidia naik 56% dan laba bersih naik 59% dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Nvidia memperkirakan pendapatan kuartal berikutnya akan naik lagi menjadi Rp 901.80 triliun (US$54 miliar) atau sekitar Rp 883,2 triliun, lebih tinggi dari estimasi analis. Namun, perkiraan ini tidak memasukkan potensi pendapatan penjualan chip H20 ke China yang masih menunggu izin dari pemerintah AS. Kegagalan menjual chip ini sebelumnya menjadi risiko geopolitik yang bisa mempengaruhi hasil keuangan.
Pertemuan antara CEO Nvidia dengan Presiden AS pernah memberikan harapan tentang izin ekspor chip. Meski begitu, pengiriman chip H20 ke China belum terwujud dan Nvidia mendapatkan keuntungan dari pelepasan inventaris ke pelanggar luar China senilai Rp 3.01 triliun (US$180 juta) . Jika izin akhirnya diberikan, pendapatan dari chip H20 dapat berkisar antara Rp 33.40 triliun (US$2 miliar) hingga Rp 83.50 triliun (US$5 miliar) .
Analisis Ahli
Mark Li (Analis Teknologi)
Pertumbuhan Nvidia merupakan indikator kuat bahwa sektor AI akan menjadi pendorong utama ekonomi digital global. Namun, ketegangan geopolitik harus dimonitor secara ketat karena dapat berdampak signifikan terhadap rantai pasokan global chip.Samantha Lee (Ekonom Pasar Modal)
Laporan laba Nvidia yang mengungguli ekspektasi menunjukkan kepercayaan pasar yang tinggi, tetapi volatilitas saham menunjukkan ketidakpastian investor terhadap faktor eksternal seperti regulasi perdagangan internasional.
