AI summary
Oracle Health menghadapi tantangan dalam mempertahankan pelanggan dan meningkatkan kepuasan mereka setelah akuisisi Cerner. Meskipun mengalami penurunan kepuasan, ada harapan dengan pengembangan teknologi baru seperti AI. Epic terus menguasai pasar EHR, sementara Oracle berjuang untuk mempertahankan pangsa pasarnya. Oracle Health resmi mengakuisisi Cerner, sebuah perusahaan penyedia sistem rekam medis elektronik, pada tahun 2022 dengan nilai lebih dari 28 miliar dolar. Akuisisi ini membuat Oracle semakin dalam terjun ke sektor layanan kesehatan yang sangat kompetitif.Namun, setelah tiga tahun sejak akuisisi, Oracle justru kehilangan banyak pelanggan penting di bidang layanan kesehatan, terutama rumah sakit besar. Klas Research melaporkan bahwa Oracle kehilangan 57 pelanggan pengguna rekam medis elektronik, termasuk 12 sistem kesehatan besar dengan kapasitas lebih dari 1.000 tempat tidur.Ketidakpuasan pelanggan juga terus meningkat karena berbagai masalah teknis, kurang komunikasi, dan pengurangan staf ahli industri kesehatan. Banyak dari pelanggan yang diwawancarai mengaku bahwa mereka tidak akan membeli produk Oracle Cerner lagi di tahun 2024. Sementara itu, pesaing utama Oracle, Epic, semakin kuat dengan menguasai pangsa pasar sebesar lebih dari 42%.Meskipun demikian, ada harapan baru karena Oracle mulai memperkenalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem EHR mereka, seperti Clinical AI Agent yang membantu dokter membuat dokumentasi pasien lebih otomatis. Beberapa pelanggan awal yang menggunakan teknologi ini merasa puas dan melihatnya sebagai kemajuan positif.Meski demikian, sebagian besar pengguna masih ragu untuk mengadopsi sistem EHR berbasis AI yang baru diluncurkan Oracle. Mereka belum yakin apakah sistem tersebut bisa memenuhi kebutuhan mereka dalam waktu dekat, dengan sebagian kecil berencana untuk menggunakannya dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Oracle menghadapi tantangan besar dalam mengintegrasikan Cerner, terutama dalam menjaga kepuasan pelanggan di tengah proyek ambisius seperti di Departemen Urusan Veteran. Meski teknologi AI mereka menjanjikan, tanpa perbaikan layanan dan komunikasi yang nyata, potensi teknologi ini sulit dimaksimalkan untuk memperbaiki reputasi perusahaan.