Kenapa Saham Apple Turun Meski Pernah Capai Rekor Tertinggi Desember 2024
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
25 Agt 2025
25 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Saham Apple mengalami penurunan signifikan setelah mencapai puncak historis.
Perusahaan menghadapi tantangan terkait tarif dan adopsi teknologi AI.
Investasi besar-besaran untuk memindahkan produksi ke AS menunjukkan usaha Apple untuk mengatasi tantangan ini.
Pada akhir Desember 2024, Apple mencatat harga tertinggi sahamnya di Rp 434.37 juta ($260,10) per lembar saham. Namun sejak itu, harga saham Apple justru menurun menjadi sekitar Rp 3.81 juta ($228) , yang berarti turun sekitar 12%. Padahal, indeks S&P 500 yang mewakili pasar secara umum justru mengalami kenaikan 7% selama periode yang sama.
Sementara Apple mengalami penurunan, beberapa saham teknologi besar lainnya seperti Nvidia dan Microsoft justru mencatat kenaikan signifikan. Nvidia naik 27% dan Microsoft naik 16% sejak akhir Desember 2024. Bahkan indeks Nasdaq-100 dan S&P 500 juga mencapai level tertinggi baru di tahun 2025.
Salah satu faktor utama yang membuat Apple tertinggal adalah banyaknya produksi hardware Apple yang berada di China, membuat perusahaan rentan terkena tarif impor. Biaya dan proses pemindahan produksi ke Amerika Serikat tidaklah mudah dan murah. Meski Apple berencana menginvestasikan Rp 8.35 quadriliun ($500 miliar) dalam empat tahun ke depan untuk memindahkan produksinya, belum jelas apakah hal ini akan menguntungkan Apple secara finansial.
Selain itu, dalam hal adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI), Apple juga dinilai kalah saing dibanding pesaing seperti Google dan Samsung. Smartphone terbaru dari kedua perusahaan ini dinilai memiliki kemampuan AI yang lebih unggul daripada produk Apple, yang menjadi perhatian investor dan pasar teknologi.
Meskipun saham Apple sedang melemah, perusahaan ini tetap memiliki bisnis yang kuat dengan basis pelanggan yang loyal. Namun, ketidakpastian mengenai masa depannya semakin meningkat, terutama terkait biaya produksi dan inovasi teknologi. Investor disarankan untuk mempertimbangkan opsi investasi lain yang dinilai lebih menjanjikan saat ini.
Analisis Ahli
Matt Frankel
Apple punya tantangan besar dari sisi biaya produksi dan inovasi AI, sehingga investor harus hati-hati dan mempertimbangkan opsi investasi lain yang diprediksi lebih unggul.