Strategi Baru Ripple dan Tantangan Harga XRP di Era Stablecoin
Finansial
Mata Uang Kripto
24 Agt 2025
130 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Pasar stablecoin diperkirakan akan tumbuh pesat berkat kerangka regulasi baru.
Akuisisi Rail oleh Ripple menunjukkan strategi perusahaan untuk beradaptasi dengan tren stablecoin.
Meskipun ODL dapat meningkatkan permintaan XRP, stablecoin berpotensi mengancam nilai XRP sebagai aset jembatan.
Pasar stablecoin diperkirakan akan tumbuh sangat pesat hingga mencapai 3,7 triliun dolar AS pada tahun 2030, menurut Citigroup. Stablecoin menawarkan banyak kemudahan dalam transaksi keuangan digital terutama dalam pengiriman uang lintas negara yang lebih cepat dan murah dibandingkan metode tradisional.
Ripple, perusahaan di balik koin digital XRP, mencoba mengikuti tren ini dengan mengakuisisi Rail, sebuah perusahaan pembayaran stablecoin senilai 200 juta dolar, untuk memperluas layanan dan memastikan posisinya di pasar yang akan didominasi oleh stablecoin.
Teknologi Ripple terdiri dari dua produk utama, RippleNet dan On-Demand Liquidity (ODL). RippleNet memungkinkan penggunaan blockchain tanpa melibatkan XRP, sedangkan ODL menggunakan XRP sebagai aset jembatan dalam transfer uang antar negara.
Dengan hadirnya regulasi Genius Act yang melegitimasi stablecoin dalam pasar finansial luas, Ripple menghadapi risiko bahwa stablecoin bisa menggantikan peran XRP sebagai aset utama, sehingga menimbulkan tekanan terhadap harga XRP yang selama ini bergantung pada penggunaan ODL.
Untuk tetap relevan, Ripple harus mengadopsi model yang menggabungkan stablecoin dan XRP, namun hal ini bisa menurunkan permintaan terhadap XRP. Dengan banyak institusi keuangan yang lebih memilih stabilitas daripada aset berisiko, keberlanjutan harga XRP yang tinggi menjadi hal yang diragukan.
Analisis Ahli
Johnny Rice
Ripple sedang menghadapi dilema besar karena akuisisi stablecoin dapat mengurangi permintaan XRP, menempatkan harga token tersebut dalam tekanan negatif jangka panjang.