Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Baterai Nuklir Baru Tahan 50 Tahun dan 3 Kali Lebih Efisien untuk Lingkungan Ekstrem

Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
electronic-vehicles-and-batteries (7mo ago) electronic-vehicles-and-batteries (7mo ago)
19 Agt 2025
101 dibaca
2 menit
Baterai Nuklir Baru Tahan 50 Tahun dan 3 Kali Lebih Efisien untuk Lingkungan Ekstrem

Rangkuman 15 Detik

Baterai nuklir baru ini dapat bertahan hingga 50 tahun dengan efisiensi yang tinggi.
Teknologi RPVC berbasis strontium-90 menunjukkan potensi besar untuk aplikasi di lingkungan ekstrem.
Inovasi ini dapat mengatasi tantangan daya tahan dan pemeliharaan pada sistem energi konvensional.
Para peneliti di China berhasil mengembangkan baterai nuklir baru yang dapat bertahan hingga minimal 50 tahun dan memiliki efisiensi energi tiga kali lipat dari baterai nuklir standar. Baterai ini dirancang khusus untuk bekerja di lingkungan ekstrem seperti ruang angkasa dan infrastruktur laut dalam yang sulit dijangkau untuk perawatan rutin. Baterai ini menggunakan teknologi canggih yang menggabungkan sel radio-fotovoltaik berbasis isotop strontium-90 dengan struktur waveguide light concentration (WLC) dan scintillator kristal tunggal GAGG: Ce. Komponen tersebut mengubah energi radioaktif menjadi cahaya yang kemudian dikonversi menjadi listrik secara efisien. Dalam uji coba, baterai nuklir ini mencapai efisiensi konversi energi sebesar 2,96 persen dengan output listrik hingga 3,17 milliwatt. Prototipe menunjukkan stabilitas jangka panjang yang sangat baik, dengan hanya mengalami penurunan performa 13,8 persen setelah paparan radiasi setara 50 tahun operasi. Keunggulan lain dari baterai ini adalah tidak memiliki bagian bergerak dan tidak membutuhkan sumber energi eksternal, sehingga meminimalisasi kehilangan energi dan potensi kerusakan. Inovasi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan tenaga listrik berkelanjutan tanpa perawatan di lingkungan yang sulit dijangkau. Walaupun teknologi ini menawarkan prospek cerah untuk aplikasi nuklir di masa depan, tantangan dalam memproduksi secara massal dan menekan biaya isotop strontium-90 masih menjadi hambatan yang perlu diselesaikan. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Light: Science & Applications sebagai langkah maju di bidang baterai nuklir.

Analisis Ahli

Dr. Maya Santoso (Ahli Fisika Nuklir)
Pemanfaatan GAGG: Ce sebagai scintillator dalam baterai nuklir adalah inovasi menarik yang menggabungkan kemampuan deteksi photon dengan pemanfaatan isotop radioaktif yang stabil, sehingga menjanjikan teknologi energi berkelanjutan untuk aplikasi ekstrem.
Prof. Andi Rahman (Insinyur Energi)
Efisiensi hampir tiga kali lipat dari teknologi konvensional bisa menjadi game changer bagi operasi jangka panjang tanpa perawatan. Namun, produksi massal isotop dan keamanan radiasi perlu dirancang secara ketat untuk implementasi skala besar.