Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Penundaan Pengangkatan Bahan Bakar Fukushima karena Risiko Tsunami Baru

Sains
Iklim dan Lingkungan
climate-and-environment (7mo ago) climate-and-environment (7mo ago)
30 Jul 2025
124 dibaca
1 menit
Penundaan Pengangkatan Bahan Bakar Fukushima karena Risiko Tsunami Baru

Rangkuman 15 Detik

Proses penghapusan debris di Fukushima mengalami keterlambatan yang signifikan.
Bencana Fukushima diakibatkan oleh gempa bumi dan tsunami yang sangat kuat pada tahun 2011.
Peringatan tsunami baru-baru ini mengakibatkan evakuasi besar-besaran di Jepang.
Pada tanggal 11 Maret 2011, Jepang mengalami gempa bumi besar yang disertai tsunami hebat sehingga menyebabkan kecelakaan nuklir di pembangkit listrik Fukushima Daiichi. Tsunami merusak sistem pendingin hingga menyebabkan lelehan inti reaktor di tiga unit. Awalnya, rencana pengangkatan bahan bakar nuklir lebur di reaktor ketiga dijadwalkan dimulai di awal 2030-an. Namun, operator TEPCO mengumumkan bahwa proses persiapan membutuhkan waktu 12 sampai 15 tahun sehingga pengerjaan penuh bisa tertunda hingga tahun 2037 atau lebih lama. Ada sekitar 880 ton bahan bakar nuklir lebur bercampur dengan puing-puing di dalam tiga reaktor, yang menimbulkan risiko radiasi tinggi. Pelepasan limbah radioaktif yang sudah diolah pun harus dihentikan sementara saat terjadi peringatan tsunami baru. Pada hari Rabu, gempa sebesar 8,8 magnitudo terjadi di dekat Semenanjung Kamchatka di Rusia, memicu peringatan tsunami untuk wilayah Jepang, Alaska, dan Hawaii. Jepang bahkan mengeluarkan perintah evakuasi kepada hampir 900.000 warga pesisir. Meski menghadapi banyak tantangan termasuk bencana alam berulang, TEPCO berkomitmen untuk menyelesaikan dekomisioning Fukushima pada tahun 2051. Mereka juga telah mulai menggunakan robot canggih untuk mengambil sampel bahan bakar nuklir demi memulai proses pengangkatan bahan bakar nuklir.

Analisis Ahli

Kenji Saito (Ahli Nuklir Jepang)
Proses penghapusan bahan bakar nuklir meleleh memerlukan inovasi teknologi yang belum sepenuhnya matang, sehingga penundaan adalah langkah realistis demi menghindari kecelakaan baru.
Taro Yamamoto (Ahli Bencana Alam)
Risiko tsunami di kawasan Pasifik harus dijadikan prioritas dalam perencanaan evakuasi dan pengamanan fasilitas nuklir untuk mengurangi dampak bencana.