AI summary
Cina terlibat dalam pengiriman mesin ke Rusia untuk mendukung produksi drone. Drone Garpiya-A1 digunakan untuk serangan di Ukraina, termasuk terhadap target sipil. Sanksi tidak menghentikan produksi drone Rusia, yang terus menggunakan pemasok alternatif dari Cina. Rusia sedang meningkatkan produksi drone menyerang Garpiya dengan menggunakan mesin buatan Tiongkok yang diselundupkan secara rahasia. Mesin ini dikirim dengan menyamar sebagai peralatan pendingin untuk menghindari sanksi Barat yang sudah diberlakukan pada perusahaan terkait.Dokumen yang diperoleh dari berbagai sumber menunjukkan bahwa ada kontrak besar antara perusahaan milik negara Rusia, IEMZ Kupol, dengan kementerian pertahanan Rusia untuk mengirimkan lebih dari 6.000 drone pada tahun 2025, naik signifikan dari sekitar 2.000 pada tahun sebelumnya.Drone Garpiya ini didasarkan pada desain drone Iran dan digunakan untuk menyerang target baik militer maupun sipil di Ukraina. Intelijen Ukraina melaporkan bahwa drone ini diluncurkan sekitar 500 kali setiap bulan, menunjukkan intensitas konflik yang terus berlangsung.Meskipun AS dan Uni Eropa sudah menjatuhkan sanksi terhadap beberapa perusahaan Tiongkok yang memasok mesin drone, pengiriman tetap berlangsung melalui perusahaan perantara dan front di Rusia, yang membuat pengawasan dan penegakan sanksi menjadi sulit.Pemerintah Tiongkok sendiri membantah mengetahui pengiriman komponen tersebut dan mengkritik sanksi unilateral yang bukan berasal dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, sementara pejabat Eropa berusaha meningkatkan tekanan diplomatik untuk menghentikan aliran teknologi ini demi menjaga keamanan kawasan.
Ini jelas menunjukkan betapa sulitnya memberlakukan sanksi internasional secara efektif tanpa kerjasama penuh dari negara pihak ketiga, khususnya China yang memiliki peran kunci dalam rantai pasokan teknologi militer. Keterlibatan perusahaan front dan penyamaran barang menjadi tantangan besar yang harus ditangani dengan pendekatan yang lebih canggih dan koordinasi global yang lebih ketat.