Pemerintah Inggris Usulkan Pelaporan Wajib dan Larangan Bayar Tebusan Ransomware
Teknologi
Keamanan Siber
22 Jul 2025
111 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Pemerintah Inggris berupaya meningkatkan pelaporan dari korban ransomware untuk membantu penegakan hukum.
Larangan pembayaran tebusan diusulkan untuk organisasi publik dan infrastruktur kritis.
Diskusi tentang kebijakan ransomware mencerminkan tantangan kompleks dalam menangani ancaman siber.
Pemerintah Inggris berencana mengubah strategi melawan ransomware dengan mewajibkan korban untuk melaporkan serangan ransomware yang mereka alami. Ini dilakukan agar pihak berwenang bisa mendapatkan intelijen penting untuk melacak dan menghentikan pelaku kejahatan siber.
Selain mewajibkan pelaporan, pemerintah juga mengusulkan larangan pembayaran tebusan bagi organisasi sektor publik dan infrastruktur penting. Hal ini bertujuan untuk mengurangi keuntungan yang diperoleh para pelaku ransomware dari serangan mereka.
Bagi organisasi lain yang menjadi korban ransomware, pemerintah ingin ada pemberitahuan jika mereka berniat membayar tebusan. Dengan demikian, pihak berwenang dapat terus memantau dan mengontrol situasi untuk mencegah kerugian lebih lanjut.
Para ahli keamanan siber menyambut baik rencana pemerintah ini. Mereka menilai bahwa pelaporan wajib dan larangan pembayaran akan membantu penegak hukum menangkap dan menghukum para pelaku ransomware yang selama ini sulit ditangkap.
Namun, ada juga kekhawatiran mengenai larangan pembayaran, terutama bagi sektor kritikal seperti rumah sakit, yang terkadang harus memilih membayar tebusan demi menyelamatkan layanan mereka. Australia sendiri sudah memberlakukan aturan wajib lapor tanpa melarang pembayaran tebusan.
Analisis Ahli
Allan Liska
Ransomware operators and their enablers are widely catchable and prosecutable, making mandatory reporting crucial.Arda Büyükkaya
Banning ransom payments and pursuing perpetrators helps impose real costs on threat actors, acting as a strong deterrent.
