AI summary
XLSMART berfokus pada mempertahankan dan mengembangkan pelanggan pasca merger. Industri telekomunikasi di Indonesia menghadapi tantangan kompetitif yang signifikan. Rajeev Sethi menekankan pentingnya investasi yang tepat dalam teknologi untuk kemajuan industri. PT XL Axiata dan PT Smartfren, bersama PT Smart Telcom, telah resmi merger membentuk perusahaan baru bernama XLSMART. Gabungan ini membentuk entitas besar dengan pelanggan sekitar 95 juta orang. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi mereka di pasar telekomunikasi Indonesia yang sangat kompetitif.Menurut Rajeev Sethi, CEO XLSMART, tugas utama perusahaan adalah mempertahankan pelanggan yang sudah ada dan mengembangkannya lebih jauh. Mereka tidak ingin kehilangan pelanggan akibat proses merger yang sedang berjalan. Fokus mereka adalah meningkatkan layanan agar pelanggan semakin puas dan terus bertambah.Situasi persaingan di pasar Indonesia cukup ketat. Rajeev mengungkapkan bahwa terkadang operator saling bersaing dengan cara yang kurang rasional, seperti menurunkan harga secara berlebihan. Kondisi ini membuat operator sulit berinvestasi dengan baik agar layanan dan teknologi bisa terus berkembang.Salah satu dampak buruk dari persaingan harga yang tidak sehat adalah kurangnya investasi dalam hal-hal penting seperti pengembangan teknologi 5G. Menurut Rajeev, ini menyebabkan Indonesia tertinggal dibanding negara lain dalam hal kemajuan teknologi telekomunikasi.Dengan latar belakang tersebut, XLSMART fokus tidak hanya mempertahankan pelanggan, tapi juga memperbaiki struktur pasar agar industri lebih sehat. Mereka berharap dengan merger ini, dapat memberikan layanan yang lebih baik dan tumbuh menjadi perusahaan telekomunikasi yang lebih kuat di Indonesia.
Merger ini merupakan langkah strategis yang sangat krusial untuk mendapatkan skala ekonomi di pasar Indonesia yang sangat kompetitif, namun keberhasilan utama akan ditentukan oleh kemampuan manajemen mempertahankan pelanggan dan meningkatkan kualitas layanan tanpa menurunkan harga secara destruktif. Jika gagal, industri telekomunikasi Indonesia akan terus tertinggal dalam pengembangan teknologi mutakhir seperti 5G, mengurangi daya saing nasional secara digital.