TLDR
Desain baru senjata kereta Tiongkok bertujuan untuk meningkatkan kekuatan tembakan dengan konfigurasi X-shape. Senjata kereta memiliki potensi untuk meluncurkan proyektil yang jauh lebih berat dibandingkan dengan desain sebelumnya. Uji coba yang sukses dari desain baru dapat meningkatkan jangkauan dan kecepatan tembak senjata kereta. China telah mengembangkan senjata rail gun elektromagnetik yang pertama kali dipasang pada kapal Haiyangshan. Namun, senjata ini memiliki masalah seperti keterbatasan daya tembak peluru yang hanya 15 kg dan sering mengalami kerusakan akibat arus listrik besar yang menyebabkan logam meleleh dan rusak selama penembakan.Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti militer di China, dipimpin oleh Lyu Qingao dari Universitas Teknik Angkatan Darat PLA, menciptakan desain baru berupa rail gun 'double-decker' berbentuk X. Desain ini menggabungkan dua senjata dalam satu laras dengan empat rel dan dua armature U yang dapat bekerja secara paralel namun independen.Keuntungan dari desain X-shaped ini adalah medan magnet vertikal dari tiap rail gun tidak saling mengganggu, sehingga senjata dapat meluncurkan peluru lebih berat hingga 60 kg dengan kecepatan minimal Mach 7. Ini meningkatkan daya tembak hingga empat kali lipat dibandingkan versi sebelumnya.Meskipun desain ini menjanjikan dengan jarak tembak hingga 400 km dan waktu peluru tiba sekitar 6 menit, masih ada kekhawatiran mengenai efek gangguan arus listrik antar rel (proximity effect) yang dapat mempengaruhi performa dan keandalan. Oleh karena itu, pengujian langsung masih diperlukan.Sementara negara lain seperti Amerika Serikat menghentikan program rail gun dan Jepang masih dalam tahap demonstrasi dengan peluru kecil, China terus mengembangkan inovasi ini untuk mewujudkan senjata elektromagnetik yang lebih kuat dan efektif di masa depan.
Desain rail gun berbentuk X merupakan langkah inovatif yang sangat menjanjikan untuk mengatasi masalah teknis utama yang membatasi kapasitas tembakan rail gun konvensional. Namun, tanpa uji lapangan nyata, tantangan seperti interferensi listrik dan ketahanan material harus benar-benar diatasi agar teknologi ini dapat digunakan secara praktis di medan perang.